perempuan biasa…

Melawan buaya, atau…………?

November 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

pyunifa: kemarin pada ribut soal Evan brimob di fesbuk

anonim: kuwi wong konyol wae…nekat narsis malah dadine ngono

anonim: haaa…haaa

pyunifa: konyol juga yang kepancing emosi :) )

pyunifa: kroco nyablak aja diladenin :) )

pyunifa: kalo dia nembak sipil, atau malak, boleh deh kita marah

anonim: wong narsis koq ya…di emosiin ya

anonim: haaa…haaa

pyunifa: sama2 narsis sih, hehheh

pyunifa: contoh sempurna narsisisme akar kekerasan

anonim: betul

anonim: kuwi judul menarik

pyunifa: aktivis pembela cicak itu juga bisa jadi narsis, kalo dia menganggap orang yang tidak membela cicak berarti musuh yang harus dilawan

anonim: ini akan berputar balik 180 derajat..kalau polisi bisa membuktikan kalau uang itu memang benar masuk ke KPK…wah…iso2 podo koleps kabeh

anonim: haaa..haaa

pyunifa: iya pusing ya

pyunifa: kita kan tidak benar2 tau siapa yang korupsi dan yang tidak

pyunifa: hanya tau siapa cicak siapa buaya

pyunifa: mau melawan buaya, atau melawan korupsi?

pyunifa: melawan koruptor, atau korupsi?

anonim: kenapa isu nya ngga melawan korupsi ya…kenapa harus terjebak pada cicak dan buaya

pyunifa: :)

pyunifa: kita bangsa yang suka simbol

pyunifa: sesuatu yang riil, bisa dilihat wujudnya

pyunifa: orde baru disimbolkan dengan Soeharto

pyunifa: padahal begitu Soeharto jatuh, budaya orde baru tetap berlangsung

anonim: PADAHAL sifat dan karakter orde baru sendiri masih ada walaupun soeharto udah ngga ada

pyunifa: iya

pyunifa: aku liat di tv, di jkt abis ada aksi besar2an ya?

anonim: aksi opo…mung ngrungokke lan ndelok pentase SLANK neng bundaran HI…karo jeprat-jepret…trs di pasang neng FB…sebagai bukti bahwa udah berempati karo CICAK

anonim: haaa…haaa

pyunifa: hihi, pantesan, polisi yang turun juga mung biasa

pyunifa: masih sangar aksi perlawanan kaki lima atau warga yang digusur ya

anonim: bener

→ Tinggalkan KomentarKategori: Harian · Refleksi

Kamera digital, hidup digital

Oktober 5, 2009 · 1 Tanggapan

Apa kaitannya hidup manusia dengan kamera digital? Ternyata kamera digital bukan hanya bagian dari hidupku saat ini, tapi juga menjadi inspirasi berharga.

Hari ini, seorang kawan bertanya: “Aku ditawari Canon seri 1000. Menurutmu, piye?” Berhubung aku cukup awam soal kamera, langsung saja kutanyakan hubby.“Wah, kalau untuk motret produk, mending dia beli yang rada serius, yang tiga digit maksimal,” katanya.

Belakangan ini aku makin menyadari bahwa selama ini aku hidup bersama seorang konsultan kamera. Siapa lagi? Ya, hubby dong! Setidaknya, untuk orang-orang yang gapkam (gagap kamera) seperti aku, advisnya lumayan berguna. Lihat saja sejarah panjang kami memilih kamera. Mulai dari kamera analog Nikon F4 (yang juga kami sebut F Se’, seperti nama kelompok artis Mandarin yang terkenal awal 2000-an). Saat itu juga terkenal Nikon F5, tapi beruntunglah kami tidak beli. Bagian grip (pegangan tangan)nya ternyata tidak tahan panas, dan mudah mengelupas, seperti di alami seorang kawan yang terlanjur membeli. Lalu ketika musim digital melanda, kami tidak buru-buru membeli kamera, meski sudah ada yang menawarkan beberapa jenis kamera. Tunggu saja dulu, kata hubby. Dalam setahun, jenis yang mana yang tidak ada keluhan dari pemakainya, itu yang dibeli.

Okay. Kesabaran, seperti kata Kung Fu Panda, seringkali memang menjadi kunci mengatasi masalah. Dengan kesabaran pula, aku menunggu kamera digital Nikon D100 hubby laku – untuk ditukar tambah dengan Canon Eos 40D. Jenis kamera ini sebenarnya pernah direkomendasikan hubby pula ke salah seorang kenalan yang tahun lalu ingin membeli kamera. (Dan ternyata, dia malah membeli Nikon D40, yang harganya separuhnya -entah karena memang tidak bisa membedakan merek Nikon dan Canon atau karena hal lain.)Alasan hubby, kamera Canon Eos 40D lumayan handal sebagai seri semi professional. Salah satu indikasi sederhana, memory card-nya CF (compact flash) dan bukannya SD (Smart Drive) seperti kamera poket, dan bodynya rigid. Satu alasan penting lain, dengan kualitas sedemikian rupa, harga relatif terjangkau isi dompet.

“Lha, kalau temenmu itu mau bersabar sedikit, mending dia menabung sebentar untuk beli Canon Eos 40D, ketimbang Nikon D 40,” kata hubby dengan nada menyesalkan. Katanya lagi, ketimbang Nikon D 40, mending membeli Nikon D 70 second seperti punya Popon. “Rigid tuh, memorycard-nya juga sudah CF.” katanya. Popon sendiri pernah rasan-rasan ingin menjual kamera itu, namun begitu mengobrol dengan hubby, entah kenapa, dia lantas mengurungkan niatnya. Belum tahu lagi sekarang ini, jangan-jangan dia malah sudah beli Nikon D 300, salah satu keluaran terbaru Nikon. Nikon D 300 itu seperti yang dibeli salah seorang saudaraku, mas De – sebut saja begitu. Belum lama ini, ia bertanya-tanya soal kamera ke hubby. Kameralah yang membuatnya batal membeli mobil VW idamannya. Hubby dikontak untuk bertanya-tanya soal kamera. Bahkan begitu ia membeli Nikon D 300, hubby dikontak lagi – karena ia ditawari pemilik toko kamera pula untuk membeli lensa tertentu. “Sik, mas, ojo tuku dhisik,(Nanti dulu Mas, jangan beli dulu)” kata hubby di ujung selularnya. Begitu situasi tenang, hubby menerangkan. “Sebelum beli lensa, lihat dulu lensa yang kamu punya. Kamu itu sudah punya lensa 80-200 mm ED F/2.8. Artinya, kamu sudah tidak perlu lagi membeli spesifikasi lensa seperti yang ditawarkan pemilik toko tersebut.” Intinya, jangan buru-buru memutuskan untuk membeli sesuatu sebelum kita memahami apa yang kita butuhkan. Ya, biasalah, orang awam tapi banyak duit biasanya jadi sasaran empuk pemilik toko kamera. Setidaknya hubby sudah menyelamatkan sekian juta menggelontor begitu saja dari kantong tanpa dasar yang jelas.

Kemudian, soal pixel. Ngapain sih keblinger dengan pixel gede, memangnya foto itu mau diprint seukuran apa? Begitu selalu kilahnya jika ditanya, kenapa tidak memilih kamera dengan pixel paling besar. Lha, kalau outputnya seukuran bis kota, baru perlu pixel besar. Paling ya 10 Mega Pixel (MP). Itu juga sebabnya ia tidak menyarankan aku membeli Canon Eos 500D dengan 15 MP, yang katanya: “Cuma menang canggih softwarenya, tapi lebih ringkih. Memorycard-nya pun masih SD.” Jadi, kembali hubby menekankan poin penting – kenali kebutuhan sebelum memutuskan membeli sesuatu. Untuk yang isi kantongnya pas-pasan seperti kami, tapi suka memotret outdoor, dengan cuaca yang kadang panas terik tidak menentu, tentu kualitas kamera yang lebih rigid yang dibutuhkan.

Bicara soal jual beli kamera digital, ternyata memiliki kamera digital, tidak lantas bisa dengan merdeka menjepret sana sini tanpa perhitungan. Nilai jual kamera digital, bukan sekedar dihitung dari lamanya, tapi berapa kali digunakan untuk menjepret (shoot count). “Jadi, meskipun memiliki kamera digital, tetaplah berpikir analog – yang memperhitungkan berapa jumlah frame film yang dihabiskan. Dengan demikian kita tidak sembarang bidik, yang berarti membuang-buang shoot count, dan membuang-buang usia processor kamera.” Begitu saran hubby. Shoot count memiliki batasan dan jika itu terlampaui, maka berarti kamera harus ganti processor – atau sekalian beli baru. Makanya kemudian, terjadi pula pergeseran paradigma. Jika dulu, paradigmanya adalah body kamera boleh lama, asal lensa baru (paradigm untuk kamera analog) – maka sekarang, body kamera sebaiknya baru, lensa boleh lama (paradigm untuk kamera digital). Ya, hal itu karena body kamera digital memiliki lebih banyak keterbatasan dibanding lensa. Itulah sebabnya, hingga saat ini kami masih mempertahankan si metal body Nikon F4 yang dibeli tahun 2001 atau delapan tahun lalu. Kata hubby, kamera analog seperti itulah yang long lasting, bahkan mungkin sampai anak kami dewasa sekalipun. Cukup lama pula untuk menyimpan banyak kenangan kebersamaan kami.

Jadi, bukan hanya soal kesabaran, serta kehati-hatian yang kupelajari dari seluk beluk memahami kamera, khususnya kamera digital ini. Memahami kamera digital, membuatku merasa hidup ini pun seperti usia kamera digital – begitu terbatasnya, sehingga kita harus seoptimal mungkin menggunakannya.

Thanks buat hubby untuk inspirasi hari ini.

→ 1 CommentKategori: Aku dan dia · Harian · Refleksi

Kenikmatan..

September 30, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Apa yang kamu nikmati di dunia ini?”

Suatu saat, di suatu tempat, aku tembakkan pertanyaan ke seorang kawan. Kawanku itu, sambil tersenyum simpul, menjawab:

“Ketenangan.”

“Apa yang membuatmu tenang?”

“Jika aku melakukan sesuatu hal yang berarti bagi orang lain.”

“Apakah hal itu sudah terjadi?”

“Hmmm. Belum. Soalnya kita mesti bergantung juga dengan orang lain.”

“Jadi….” Aku mencoba menyimpulkan. “Kamu belum menikmati hidup ini? Ah, kasihan sekali…”

Kawan saya tersenyum mencemooh. Katanya, pertanyaan psikologi selalu begitu – seperti serial yang menyambungkan satu jawaban ke pertanyaan berikut, dan seterusnya. Saya tertawa. Cemoohan yang justru menunjukkan ketakutan akan penyingkapan dirinya sendiri.

Tapi, cemoohan itu tidak mengurangi pentingnya memahami ‘kenikmatan’ itu sendiri. Atau setidaknya, persepsi kita tentang ‘kenikmatan’.

Belakangan ini aku juga mencoba merenung, apa yang membuat aku merasa nikmat. Aku pun membuat daftar. Pertama, melihat Gabriel tersenyum. Lalu, melihat rumah rapi dan bersih. Selanjutnya, menyaksikan hasil-hasil karyaku. Dan seterusnya. Tanpa kusadari, aku sedang mengidentifikasi sumber-sumber kenikmatanku. Yang mengherankan, ada sisi-sisi yang jika dinalar secara logika, seharusnya aku tidak nyaman. Dan secara logis, memang bukan hal yang bagus. Misalnya, bahwa aku tidak lagi bekerja sebagai karyawan tetap. Ada kalanya, aku memang merindukan rutinitas kantoran yang kutekuni belasan tahun lamanya. Dan aku menyadari hal-hal tidak mengenakkan yang menyertai fakta saat ini. Tapi, ajaibnya, setiap kali sumber-sumber (kenikmatan) tadi menyeruak muncul, bayangan tidak nyaman tadi kembali tersamar.

Aku pernah mendengar, entah dari mana, mungkin dari kitab suci – (ah, aku harus banyak mengaji) – bahwa pada hakikatnya manusia dilahirkan di dunia ini dengan tugas masing-masing. Dan ‘kenikmatan’ itulah yang menuntun mereka pada jalur tugasnya. Jika kawan saya, meletakkan kenikmatan pada ketenangan – yang harus dibayarnya dengan berbuat baik, mungkin itu sudah given task yang dia sandang sejak muncul ke dunia. Tentu saja tidak mudah pula mengenali kenikmatan hakiki ini – kenikmatan yang bukan seperti kepuasan sesaat setelah membeli Blackberry misalnya. Atau membeli mobil keluaran terbaru. Atau setelah bercinta dengan orang yang kita sayangi.

Ah, aku jadi ingat pula dengan pertanyaan seorang kawan; “Lebih baik menikah atau melajang ya?”

Lalu aku jawab : “tergantung apa yang kamu cari di dunia ini.”

Tentu jawabannya bukan sekedar – iyalah, saya cari cewek atau cowok paling keren dan sexy, karena begitu kita mendapatkannya, belum tentu menikah menjadi jawabannya. Ada sesuatu yang lebih mendalam. Aku, misalnya. Memiliki dan membesarkan anak, menjadi salah satu tujuan penting di dunia ini. Mempersiapkan suatu mahluk yang semula tidak berdaya menjadi berdaya dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia, merupakan proyek jangka panjang – yang juga bisa berarti perubahan banyak hal bagi saya. Sehingga, aku menjadi paham, mengapa masa-masa keterlibatan dalam setiap prosesnya, juga menjadi sumber kenikmatan bagiku. Mungkin memang ini salah satu jalan yang digariskan. Kalaupun aku harus tidak terlibat dalam beberapa masa itu, bisa jadi karena sumber kenikmatan itu memang ada pada lebih dari satu jalan. Dan semuanya bermuara pada kehidupan yang lebih baik, bukan hanya bagi aku dan anakku, tapi juga orang banyak.

Mulailah pada apa yang membuatmu nyaman, yang bisa kamu nikmati. Dan kamu akan memahami tugasmu di dunia.

Entah siapa yang menemukan rumus tersebut, tapi aku merasa bahwa rumus itulah yang menggerakkanku sekarang ini.

Nah, apa yang membuat kamu menikmati dunia ini?

→ Tinggalkan KomentarKategori: Harian · Refleksi

Diet, Garam, dan Impor Pangan

September 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya sedang diet. Bagi yang pernah melihat saya, mungkin terperangah. Sudah kurus begini (berat 53 kg, tinggi 164 cm), masih diet? Kurang kurus apa lagi?

Tapi itu bukan keheranan yang aneh. Umumnya kita memang menganggap diet itu tidak lebih daripada mengurangi porsi makan, untuk menurunkan berat badan. Beda tipislah, dengan puasa. Bedanya, puasa didahului niat, hanya pada hari tertentu, dan Insya Allah, mendapat pahala dariNya. Sedangkan diet, bagi saya – yang entah dikutip dari mana, saya lupa – adalah suatu perilaku pengaturan pola makan maupun apa yang dimakan, yang dilakukan secara sadar karena menyadari manfaatnya.

Saya sendiri tidak ingat bahwa sedang diet, karena saya jalani begitu saja secara teratur. Ingatan muncul, ketika adik my hubby yang laki-laki – datang ke rumah. Karena saya hanya punya tempe, saya tawari tempe goreng. Dan jawabnya; “aku minta tempe mentah saja , dua iris.”

Waw, tempe mentah? Reaksi pertamaku, bengong. Yang benar saja, masak hanya makan kacang kedelai yang terbalut ragi segar begitu saja? Tapi saya turuti. Kebetulan saya punya yang dibungkus daun pisang, favorit saya juga. Tempe, adalah panganan favorit keluarga, termasuk anakku. Hanya belum terpikir menyantapnya mentah-mentah. Lalu, ipar saya itu bercerita soal kawan-kawannya yang hanya menyantap tempe mentah dan madu. Kawan-kawannya itu – yang berusia tujuh puluhan tahun – masih tetap segar dan berstamina – bahkan masih kuat menempuh jarak ratusan kilometer dengan menyupiri sendiri – konon karena apa yang dimakannya tersebut. Sebagian besar usia yang dihabiskan sebagai tahanan politik di Pulau Buru tampaknya ikut mempengaruhi pola makan mereka. Dan ipar saya pun ikut ‘tertular’ kebiasaan tersebut.

Tapi bicara tempe dulu dan sekarang, tentu beda. Sekarang, tempe, bukan lagi ‘milik’ Indonesia. Beberapa perusahaan asing sudah menguasai hak paten produksinya secara skala internasional. Bahkan konon, hak paten itu pula yang menjegal sosok Sobron Aidit, ketika dalam pengasingannya di Perancis ingin memproduksi tempe, sebagai bagian dari bisnis rumah makan Indonesia yang dikembangkannya. Bahan baku utamanya, kedelai, Pemerintah Indonesia bahkan masih harus mengimpor 70% dari kebutuhan nasionalnya. Jadi ya nggak heran, kalau masih ingat, gejolak harga kedelai dunia (hingga 100%!!) langsung memicu krisis tempe dan tahu di Indonesia, 2007 lalu. Saya? Ya, pusing juga waktu itu! Panganan favorit, yang banyak dianggap murahan, lha kok ternyata tidak murah!

Kemarin, sewaktu saya menghadiri undangan diskusi di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, lagi-lagi bersentuhan dengan isu pangan. Topiknya memang seputar globalisasi dan produksi pangan lokal. Salah satu isu yang diangkat (yang sudah sering saya dengar) adalah dekonstruksi wacana nasi atau beras sebagai makanan pokok bagi Indonesia – sehingga masyarakat yang tidak mengkonsumsi beras dianggap terkena krisis pangan. Di sisi lain, Indonesia sebenarnya punya beraneka jenis pangan selain beras. Dekonstruksi ini hanyalah untuk membuka keran bagi WTO untuk menekan pemerintah Indonesia agar mengimpor beras – dan selanjutnya menimbulkan ketergantungan terhadap beras. Padahal; “Nasi itu bisa bikin mati orang.” Kurang lebih begitu dia menirukan opini anaknya yang kuliah di kedokteran. Intinya, nasi bukan panganan yang sungguh menyehatkan sebenarnya. Meski pendapat pemasalah (atau anaknya) itu terlalu ekstrim bagi saya, saya sepakat bahwa nasi tidak seharusnya dikonsumsi banyak-banyak. Saya sendiri sudah lama mengurangi konsumsi nasi, terutama sejak merasa sistem pencernaan ini agak kurang beres. Sebagai gantinya, saya lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat tinggi, atau buah. Awalnya memang berat, tapi kemudian, tubuh saya terkondisi dengan sendirinya, sehingga porsi kecil nasi pun sudah mendatangkan kekenyangan.

Selain nasi, saya juga mengurangi garam dan gula. Dua bahan pangan yang sedang jadi hot issue belakangan ini. Gula, karena harganya meroket hingga 10 ribu per kilogram. Saya mengurangi gula, begitu menyadari ibu saya pernah terkena gejala diabetes.

Sementara garam?

Saya pernah googling mengenai isu pangan, dan alamak…! Kompas 24 Agustus 2009 menyebutkan bahwa anggaran belanja impor pangan Rp 50 trilyun, atau 5% dari total APBN. Kedelai sudah pastilah termasuk di dalamnya, bersama gandum, daging sapi, susu sapi, gula, dan garam. Nah, ini yang paling bikin saya kaget, bahkan garam pun kita impor! Hingga Rp 900 miliar pula!

Seorang kawan saya, di facebook langsung memprotes informasi yang saya share soal impor garam ini. Ia, yang asal Sulawesi, menyebut Jeneponto, suatu kabupaten di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai penghasil garam beryodium terbesar di Indonesia. Ah, saya juga malah jadi ingat pulau asal usul saya, Madura, yang sedari dulu terkenal sebagai penghasil garam. Jadi apa kabarnya Jeneponto dan Madura, jika pemerintah kita lebih suka mengimpor garam? Ketika pekerjaan yang biasa ditekuni tidak menghasilkan lagi, bisa-bisa jadi pengemislah mereka. Padahal mengemis sudah difatwakan haram di Madura, dan dianggap pelanggaran Perda TIBUM di Jakarta. Persis salah satu judul film Warkop DKI; Maju Kena, Mundur Kena. Sial betul ya, nasib orang kecil…!

Konon, garam produksi lokal kurang bermutu, sehingga impor menjadi jalan keluar. Aneh juga, kenapa biaya sedemikian tidak dipergunakan untuk peningkatan kualitas saja? Lagipula, seberapa banyak sih sebenarnya kita membutuhkan garam? Saya cukup bersyukur bahwa lidah ini tidak tergantung kehadiran garam dalam jumlah banyak. Suami saya sampai membuat rangking di keluarga kami, dan dengan mengesampingkan anak kami, saya menduduki peringkat buncit soal “level keasinan”. Kalau memasak, saya biasanya pesan ke hubby, supaya dia tambahkan garam sendiri ke piringnya, karena saya belum tentu cocok dengan “level keasinan” dia. Itu solusinya, karena dia suka menggerutu; “Mami  kalo masak kurang asin!” Yang kadang kujawab becanda: “Kalo keasinan nanti disangka Mami pengen kawin lagi..”

Begitu pun gula. Kopi favorit saya adalah black coffee. Definitely no added sugar. Kopi sachetan kesukaan hubby sering saya ledek dengan: “kopi rasa sirup” karena saking manisnya. Dengan itulah, gula 1 kg yang saya simpan, malah bisa bertahan sampai berbulan-bulan, saking iritnya.

Jadi, apa hubungannya diet saya dengan impor pangan?

Yang jelas, saya memang mendambakan bahwa apa yang kita butuhkan, sudah ada di negeri sendiri. Bicara soal kebutuhan bukan hanya jenis atau variannya, tapi juga kuantitas serta kualitasnya. Kalau saya diet, itu karena saya mengakui bahwa saya masih membutuhkan jenis pangan tertentu, tapi tidak dalam porsi seperti kebanyakan orang pakai. Memang jadi soal lain, jika definisi kebutuhan itu diciptakan oleh pihak yang berkepentingan. Ibarat iklan, kita akan dibuat percaya bahwa kita membutuhkan fitur-fitur yang ditawarkan, bukannya mengenali betul kebutuhan kita sendiri. Dan, saya percaya, bahwa persoalan impor pangan ini sesungguhnya adalah persoalan membaca kebutuhan mereka yang selama ini justru terabaikan. Jika terus menerus impor, kapan kita bisa fokus pada pembenahan kualitas produksi sendiri, yang akan berkontribusi pada peningkatan daya serap tenaga kerja dan kesejahteraan rakyat?

Ah iya, saya cerita ke hubby soal impor garam. Dan apa katanya? “Ya sudahlah Mi, goreng tempe nggak usah pake garam, atau…nggak usah dimasak sekalian, gimana Mi? Alias mentah! Kan katanya bisa bikin awet muda.”

Lama-lama, saya bisa tersihir juga oleh ‘iklan’ yang dibawa para eks tapol tersebut.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Setelah 14 tahun

Agustus 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kesukaanku ber-facebook ria, ternyata mempertemukan aku dengan seorang kawan lama. Sewaktu dia add, ingatanku langsung kepada mug Jakjazz’95 yang masih aku simpan hingga sekarang. Mug besar, 3 kali ukuran normal, memang jadi kesayanganku. Bayangkan, sejak aku pindah dari kediaman Bude tahun 1995 (means 14 tahun lalu!), dan pindah kos hingga 3 kali, hingga ketika pindah ke rumah keluarga suami aku tahun 2003, lalu pindah ke kontrakan di tahun yang sama, dan terakhir bermukim di rumah kami yang sekarang sejak 2004, mug itu tidak pernah tertinggal. Meski mengepaknya memang agak repot, karena harus aku bungkus dengan kertas bekas berlapis-lapis agar tidak pecah. Dan kini mug itu terpajang manis di lemari makan rumah yang kutempati saat ini di Yogya.

Aku pernah punya macam-macam mug; sebagian dari orang-orang yang aku kasihi. Tapi begitulah, nasibnya berakhir dengan hilang atau pecah begitu saja. Dan mug raksasa – bertulisan bintang-bintang jazz terkemuka, Indonesia maupun manca – ternyata begitu ‘setia’ mengikuti aku. Kondisinya pun baik-baik saja.

Dan aku bersyukur, karena hal itu menjadi pembuka percakapan kami yang lumayan bagus.

Kawanku itu, ternyata sudah sekitar enam tahun tinggal dan bekerja di Inggris, di bidang konstruksi, sesuai latarbelakang dia; teknik sipil. Yang membuat aku terkaget-kaget, ia masih mengingat masa-masa mencari rumahku di Pancoran. Dulu kami kerap ketemu di Gelanggang Mahasiswa. Dia aktif di band mahasiswa, sementara aku Kempo. Interaksi kami tidak banyak, sehingga cukup mengherankan, kami tidak saling melupakan setelah 14 tahun sekalipun.

“Aku akan ke Yogyakarta Agustus, meet up?” Aku membaca message yang masuk di kotak surat facebook aku. Aku mengiyakan. Dan dua minggu lalu kami kemudian ketemu di suatu café di Gejayan, Yogyakarta. Bayangan bahwa pertemuan kami akan canggung, ternyata buyar sama sekali. Entah kenapa, kami langsung cair. Seperti dua orang sahabat lama yang begitu lama tidak bersua.

Selain rambutnya yang mulai banyak memutih, tidak ada yang berubah. Logatnya pun tidak lantas ‘logat keju’ alias kebarat-baratan. Dialek Jogjanya tetap kental. Padahal selama di sana, dia menceritakan bagaimana kehidupannya yang cenderung being isolated, sehingga tidak banyak bergaul dengan Indonesian community. Bekerja, dan bekerja, serta networking. Begitulah. Hidupnya nyaris sempurna untuk ukuran laki-laki di mana pun. Charming, karir mapan. Hanya kurang beruntung dalam hal pernikahan. Ia baru saja bercerai.

Kami bicara banyak hal, tapi salah satu topik menarik kami adalah tentang transportasi. Rupanya dia sedang mengembangkan minatnya terkait transportasi. Kami bicara tentang kaitan transportasi dan budaya. Aku cerita pengalamanku menumpang jeepney, angkutan umum khas Philippine. Aku ceritakan bagaimana penumpang yang duduk jauh dari sopir, tidak perlu bersusah payah menggapai sopir untuk membayar, cukup menitipkan pada penumpang di dekatnya. Intinya adalah, bagaimana transportasi mengembangkan budaya saling percaya antar warganya.

“That’s excellent,” katanya. Ia bilang kemudian, budaya demikian mirip dengan di lift di sana – siapa yang terdekat dengan tombol, dia yang akan membantu menekan tombol. Ada semacam kesepakatan umum yang mengatur perilaku pemakai transportasi. Tapi beralih ke Indonesia, contoh-contoh negatif banyak bertaburan. Mulai dari perilaku pengendara motor yang sembarangan, menerima telpon atau bahkan ber-sms saat menyupir, hingga budaya korupsi yang mengakar. Dan kawanku itu mengakui, sebagai seorang idealis – pilihannya adalah tetap tinggal dan bekerja di Inggris, bukan di Indonesia. “Di Indonesia, Put..”katanya agak emosi. “Mendapatkan proyek harus dengan sogok sana sini. Aku tidak bisa begitu.”

Ada pesimisme di sana, yang aku akui kebenarannya. Bicara soal budaya, merupakan pekerjaan besar yang tidak bisa diubah dalam jangka waktu singkat. Pilihannya tinggal pada kita – terjun ke dalamnya dengan konsekuensi ikut terombang ambing arus budaya tersebut, atau memilih arus lain yang tidak dicemari budaya tersebut. Dan kawanku memilih yang kedua.

Tidak terasa 4 jam sudah kami mengobrol. “Kalau kamu mau menulis soal transportasi, kontak aku ya Put,” pintanya. “Kelihatannya kamu suka menulis. Aku baca blog kamu lho.”

Hmm..aku hanya bisa nyengir. Usulan yang menarik. Semenarik proses kami bertemu setelah belasan tahun, dan bagaimana kami nyaris tidak kehilangan bahan percakapan selama 4 jam. Mulai dari soal cat rambut, – (menarik sekali mengetahui begitu banyak pertimbangannya soal itu, sementara banyak orang begitu saja gonta ganti warna rambut sesuka hati – pasti memilih calon istri kedua jauh lebih ribet lagi! Hehehe) – hingga transportasi. Dan aku bersyukur memilih tempat dengan variasi menu yang tidak melulu pedas. Lidahnya sangat Jawa, alis manis oriented. Begitu bertolak belakang denganku yang doyan pedas. Alhasil kami ngobrol ditemani sepiring nasi goreng seafood dan calamari dengan saus manis, serta ubi manis. Lalu kami berpisah – setelah dengan nada yang kali ini – aku tangkap sedikit canggung – dia mengingatkanku untuk pulang: “Kamu kan punya suami dan anak………….”

Terima kasih untuk pertemuan ini, kawan. Tentu aku berharap pertemuan selanjutnya tidak menunggu belasan tahun lagi.

Dan mungkin, saat itu dia sudah tidak sendiri.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aku dan dia · Harian

Aku dan Perempuan Itu..

Agustus 22, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Kapan kamu melanjutkan kisah “Perempuan itu?” Aku menunggu-nunggu kelanjutannya..”
Seorang kawan mengingatkanku beberapa hari lalu.
Tunggu sajalah, aku bilang. Aku memang tidak bisa menjanjikan kisah “Perempuan Itu” bisa dilanjutkan sewaktu-waktu. Kenapa? Karena kisah itu muncul dan mengalir tanpa bisa aku duga. Sebagaimana aku mengenal “perempuan itu” juga tanpa aku duga.

Selembar ingatanku melayang di beberapa waktu lalu.

Aku bertemu perempuan itu kira-kira dua tahun lalu. Saat itu aku sedang jenuh. Begitu banyak yang kupikirkan, tapi hanya tercekat diam di benak. Aku butuh pelepasan. Dan, muncullah ia.
Awal pertemuan yang biasa, nyaris tanpa kesan. Kesan itu baru muncul ketika kami mulai saling terbuka.Kami punya banyak kesamaan. Sama-sama sudah menikah, dan punya anak. Tapi lambat laun kami saling mengenali sisi kami yang berbeda. Aku dan dia, nyaris tidak pernah sependapat dalam banyak hal. Tapi itulah yang membuat kami dekat satu sama lain. Kami sama-sama tertarik dengan permasalahan sosial, dan lebih dari itu, juga memperdebatkannya. Jika aku beranggapan “solusinya adalah A,” dia akan mengatakan “B”. Begitu seterusnya. Bahkan ketika aku mencoba mengikuti pendapatnya, dia akan mengungkap antitesis pendapatnya sendiri.

Ah, menyenangkan sekali menjadi aktivis, komentarku suatu ketika, sesaat begitu beranda facebook terbentang di layar komputer jinjingku. Semangat sekali mereka menentang neoliberalisme, demi kesejahteraan rakyat banyak. Ingin rasanya turun ke jalan lagi dan melakukan lagi aksi-aksi seperti itu..
Perempuan itu, dengan mulut masih berasap dari rokok putihnya, tergelak kecil.
“Hahaha. Kamu ketularan ABG-ABG itu? Yang benar saja! Mereka cuma mengalami euphoria kiri…pakai kaos bergambar Che Guevara, mengibarkan bendera merah, dan berteriak “anti neolib” untuk suatu kebanggaan semu…!”
Ketularan? Tidak. Bagiku mereka luar biasa berani, memutuskan untuk menentang kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat miskin. Mereka berani memperjuangkan keadilan..!

Aku tidak tahan untuk kemudian berbagi cerita bagaimana dulu – sembilan tahun lalu – aku juga sempat terlibat dalam kerja-kerja menentang golongan penguasa yang telah semena-mena terhadap minoritas – meski tidak intens. Namun aku masih memelihara semangat keadilan itu. Dan semangat itu mewarnai kerja-kerjaku selanjutnya, meski tidak lagi sepenuhnya di jalan. Selalu ada kegelisahan yang membuatku terus bertanya – apakah yang proyek yang kujalankan ini sudah mencerminkan keadilan? Dan pertanyaan berikutnya yang terus menerus menjerat benak dan hatiku selalu sama:
Sejauh mana kita berani menderita untuk hal satu itu…keadilan?

“Hahaha..memangnya berapa lama mereka berani menderita, berpayah-payah, untuk sepotong keadilan?” Damn! Perempuan itu, bagaikan iblis yang lihai menyelusup ke sanubariku, dan menertawakan kegamanganku di situ.

“Ya, begitulah. Memperjuangkan sesuatu itu butuh penderitaan. Dan kamu tahu? Hanya segelintir aktivis kita yang rela menderita. Mereka bilang anti kapitalisme, tapi memilih tinggal di apartemen mewah, minum kopi seharga 20 – 40 ribu pergelas, menyantap pizza, mengadakan pertemuan di hotel berbintang, merokok merek luar. Aktivis? Aku lebih suka menyebut mereka borjuis “berbulu” aktivis,” ia memelesetkan ungkapan “serigala berbulu domba”.

Aku tidak setuju. Lebih banyak yang menjalani hidup biasa-biasa saja, bahkan berbaur dengan masyarakat kebanyakan. Mereka terjun ke pasar-pasar tradisional, berbaur di antara buruh-buruh pabrik, mengecap keringat di antara karya-karya propaganda yang mereka ciptakan.
“Oya? Dan menurutmu, sampai kapan mereka akan bertahan?”
Aku terdiam. Cerita-cerita tentang sebagian aktivis – yang semula hidup lusuh, dekil dan bergelimang keringat karena banyak menghabiskan waktu demi aksi di jalan-jalan dan kini hidup bak flamboyant, necis wangi dan “mboyis (jawa: stylish)” – berkelebat di benakku. Bukan karena demokrasi yang dicita-citakan sudah tercapai, apalagi revolusi – atau apapun itu. Bukan. Mereka memang beralih haluan. Tapi, toh tidak semua begitu?
“Tidak semua begitu, karena tidak semua berkesempatan untuk begitu,” perempuan itu terkekeh geli melihat aku diam bengong bagai gadis udik menonton gemerlap kota.
Ah, kau dan aku memang tidak pernah sepaham, aku menolak mengalah begitu saja. Mungkin saat ini aku tidak bisa meyakinkanmu, tapi percayalah, kata-katamu tidak menggoyahkanku begitu saja.


“Saat ini, aku memang tidak menggoyahkanmu begitu saja…”Perempuan itu menatapku lekat-lekat. “But, I’m very sure that you won’t forget every single word I said. Tidakkah kamu menyadari? Kamu mudah gelisah. Dan ketidaksepahaman ini akan terus menggelisahkanmu. Kegelisahanmulah yang membawamu padaku…”
Perempuan itu menghisap rokoknya, dalam sekali.
“Bagaimana keluargamu? Suamimu? Anakmu?” tiba-tiba ia bertanya.
Baik, jawabku singkat dan tegas. Aku sedang menikmati menjadi ibu dan istri seutuhnya. Anakku sedang mulai bersekolah, jadi kuputuskan lebih banyak di rumah, menjalani peranku sebagai ibu dan partner rumah tangga bagi suamiku. I think my life is almost perfect.
“Yaya…kalau kamu jadi aktivis, kamu pasti akan tinggalkan sebagian kenyamanan itu,” katanya. “Kamu akan lebih banyak mementingkan publik. Pertanyaanku, apakah kamu bahagia dengan pilihanmu?”
Tentu aku bahagia. Sialan. Pertanyaan macam apa pula ini?
“Karena kamu punya banyak kegelisahan, dan aku yakin kamu merasa kegelisahan itu tidak bisa sepenuhnya tertumpahkan di wilayah domestik.”
Tidak juga. Aku tidak ingin jauh dari keluargaku, itu inti kebahagiaan yang kucari.
“Aku juga hidup dari kegelisahan. Dan, sialnya, aku bisa katakan bahwa – kegelisahan itu juga menjadi dasar dari petualanganku. Kegelisahan itulah yang membuatku mengenal dekat beberapa lelaki, bukan hanya cara berpikirnya, tapi juga…..” ia tertawa kecil. “…….permainannya di tempat tidur.”
Hmm! Wajahku tibatiba merona merah. Perempuan sialan.
Kamu maniak seks ya? Aku tidak bisa menahan sinisku, yang sebenarnya – untuk menutupi rasa jengah.
“Ah, bukan itu, kawan. Aku cuma menjadi – apa yang disebut – Marxist Freudian. Kamu tau itu? Menurut aliran ini, dorongan seks yang senantiasa dapat dilampiaskan, akan mendukung terjadinya revolusi. Dengan kata lain, revolusi tidak dapat terjadi dengan adanya pengekangan dorongan-dorongan seksual.”
Dan ia tergelak menertawakan ekspresiku yang mungkin jadi lucu di matanya.
Hah. Baru kali ini aku mendengar pendekatan psikoanalisis menjadi amunisi sebuah perjuangan masyarakat kelas. Aku sering mendengar Marxist Lenin, Marxist Engel, dan seterusnya. Tapi Marxist Freudian? Jika benar terjadi perilaku promiskuitas antara para aktivis, aku rasa mereka juga sedang ‘mengamalkan’ aliran satu itu. Edan. Mendengar ungkapan bahwa : ‘seks tidak lebih dari minuman – yang kita minum di saat kita haus’ saja sudah membuatku muak setengah mati. Kini malah aku mendengar sendiri ideologi yang sangat mungkin ikut bertanggungjawab atas lahirnya gagasan “seks sebagai minuman” itu.
Begitulah hubunganku dengan perempuan itu. Ingin benar, aku tambahkan “sinting” sebagai nama tengahnya. Perempuan sinting itu. Tapi menurutku kurang pas juga. Ada kalanya, kuakui, dia benar. Mungkin kenyataan yang dikemukakannyalah yang sinting.
Faktanya, dunia memang tidak hitam putih, tidak sesederhana sebidang kertas bertulisan kata-kata. Perempuan itu, suka atau tidak, membantuku melihat satu hal dari banyak sisi. Kadang tidak selalu bertentangan. Seperti, ketika kami menyikapi fenomena #Indonesiaunite. Respon masyarakat yang menolak terorisme ini tidak membuatku tergugah. Mengapa?
Jika mereka ingin Indonesia damai, gugatku sebal; mereka harus menyadari soal ketidakadilan antar masyarakat kelas. Dan itu dampaknya lebih besar daripada pengeboman hotel taraf internasional.
Perempuan itu terpingkal hingga menetes air matanya. “Tau kenapa namanya Indonesiaunite? Aku rasa itu bentuk pelampiasan kekecewaan mereka atas batalnya kedatangan Manchester United ke Indonesia. No Manchester United, Indonesia United sajalah.” Dan kini ganti aku yang tergelak.
“Tapi, bagaimanapun, aku akui mereka berhasil menjaring dukungan luas. Gagasannya sederhana dengan momentum yang pas. Bukan hanya mahasiswa, ibu-ibu rumahtangga juga merasa bisa ikut terlibat. Bersatu, be united! Bukan be underdog! Atau un – un – lain!”
Tapi Indonesia bersatu untuk siapa? Slogan itu lebih terdengar seperti indoktrinasi penguasa untuk meredam isu ketidakadilan yang lebih substansial. Hmm, gemasku belum terpuaskan.

“Ah, kamu terlalu naïf kalau menganggap slogan itu gambaran situasi saat ini. Buatku, slogan itu bersifat visioner. Gambaran masa depan Indonesia dengan masyarakat tanpa kelas.” Dan ia lagi-lagi terkekeh. “Meskipun aku tetap yakin pemicu slogan itu kekecewaan melihat pemain Manchester United.”

Begitulah, kami berdebat, dan kadang saling menertawakan. Semakin aku membenci pemikiran-pemikirannya, makin aku membutuhkannya. Semakin kuanggap gila, makin dalam aku ingin menyelaminya.
Dan aku yakin ia pun begitu. Kami saling membutuhkan, lebih dari yang kami bayangkan. Tapi, kehadirannya begitu sulit aku duga. Kadang aku ingin melupakannya, tapi ada saja yang membuatku ingat. Terakhir, saat aku mengetahui kutipan kata-katanya dijadikan status salah satu kawanku di jejaring sosial facebook.

Saat itulah, tiba-tiba aku seperti tersiksa rindu.
Tunggu sajalah, kataku saat kawanku menanyakan kelanjutan kisah perempuan itu. Rupanya ia menikmatinya seperti sebuah game.
Dan inilah uniknya ‘game’ ini.
Bukan saja kapan dilanjutkan, bahkan aku tidak tahu kapan serta bagaimana menghentikannya.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aku dan dia · Refleksi

Protes

Juni 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Di antara hiruk pikuk percakapan di facebook, saya pernah membaca sebuah kalimat, begini: “Dalam kesulitan, kita mengenal siapa kawan.”

Ah, kalimat yang menarik. Saya jadi terpancing untuk menulis juga:

“Dalam kesulitan, kita jadi lebih tahu siapa kita.”

Tentu, itu hasil refleksi pribadi. Dalam situasi sulit, kita jadi sulit berpura-pura. Kita akan mengerahkan sisi pribadi kita sesungguhnya, dalam rangka mengatasi kesulitan.

Dan, suatu hasil refleksi pula, membuatku ingin menulis begini (mungkin lebih sebagai protes atas kalimat pertama):

“Manusia macam apa pula, yang mencari kawan, hanya ketika ia mengalami kesulitan?”

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Perempuan itu..(4)

Mei 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perempuan itu sudah duduk di kursinya, saat aku datang. Haha, tumben dia mendahuluiku.  Nafasku agak tersengal ketika menarik kursi dan menghempaskan pantatku di atasnya.

“Maaf…..” Aku mencoba tersenyum. Perempuan itu tak membalasku. Dia hanya diam. Wajahnya agak memerah.

Hei…ada apa?

“Aku minta tolong sesuatu, bisa?”  Perempuan itu tampak begitu bertekad bulat. “Diamlah sejenak, beberapa detik saja.”

Tak sempat aku menarik napas, aku melihat perempuan itu mengangkat cangkir kopinya ke atas kepalaku. Aku terdiam kaku, badanku beku bagai kena sihir. Dengan perlahan, perempuan itu mengayunkan cangkirnya, dan hanya sekian centi dari rambutku, menumpahkan isi kopi itu melewati pundakku.

Mulutku ternganga bagai baru melihat ilusi kelas tinggi. Kamu…..!!

“Hahahahahaaha…” Perempuan itu tertawa lepas. Dasar perempuan sinting. Aku dapat mencium aroma kopi yang sedikit menumpahi pundakku, dan mungkin juga rambutku.

“Kamu tahu…? Aku baru saja membayangkan kamu sebagai orang itu…..”

Hah. Orang yang mana? Kamu kemarin bercerita tentang hasratmu yang muncul kembali, ketika ia kembali menyapamu. Kini kamu ingin menumpahkan secangkir kopi panas di rambutnya?

“Bukan orang yang kemarin menyapaku..” Perempuan itu mendengus. “Dengan dia, hubungan kami tetap baik. Kami tetap berteman baik, meskipun tidak seperti kebanyakan teman. Hahaha. Ini, tentang orang yang kuperkenalkan ke kamu lewat ceritaku yang pertama..”

Owh. Aku sejenak diam mengingat-ingat. Kunyalakan laptop, dan sambil menunggu, aku melayangkan pikiran pada suatu cerita yang menurutku aneh, dan agak gila.

Oooh…yang itu….kenapa dia? Kalian sudah berbaikan? Eh…salah ya..hehehe.. Aku terkekeh sumbang. Perempuan itu tersenyum, menyeringai tepatnya.

“Ya, ‘berbaikan’. Dan ‘salam’ yang ingin kusampaikan kepadanya adalah, menyiramnya dengan kopi seperti tadi.”

Hei.. ada apa lagi? Kupikir kamu sudah melupakan kemarahanmu karena soal proyek kalian dulu itu.

“Sebenarnya, iya. Soal proyek itu, meskipun sampai detik ini dia tidak punya nyali untuk menjelaskannya kepadaku seperti komitmen awal kami sebagai tim, tapi aku mulai memaafkannya. Memaafkan, meski tidak melupakan.”

Ah, syukurlah…. Aku tidak menyembunyikan kelegaanku. Moccachino yang tiba di mejaku langsung kuhirup aromanya. Senyumku merebak di bibir cangkirnya.

“Tapi memang, memaafkan pun ada ujiannya. Aku mendengar bahwa, dia pernah bersumpah untuk tidak menghubungiku, demi kelancaran fasilitas dari pacarnya.”

Oya? Benarkah? Lagi-lagi, mulutku ternganga.

“Aku belum konfirmasikan ke dia, tapi aku yakin itu benar. Aku pun berpikir demikian, dulu itu. Tapi aku tidak menyangka akan mendengar pembenarannya, meski bukan dari dia langsung. Sejak kami ribut-ribut soal itu, dan dia memilih berlindung di balik ‘ketiak’ pacarnya, aku sudah menganggap dia tidak lebih dari pengecut berbaju kiri.  Ya, ironis sekali, salah satu penggerak kegiatan kiri yang dianggap berani itu tidak lebih dari seorang pengecut. A real coward….!”

Eh, sebentar..sebentar…

Aku menghirup moccachinoku, mengecek layar komputerku, dan menatap matanya. Wajah perempuan itu memerah. Aku bisa merasakan hawa kemarahan dan kebencian yang kuat. Tapi kenapa? Kenapa kamu harus marah dengan adanya sumpah itu?

“Aku pikir, kalau dia ingin meninggalkanku, tinggalkan saja, tidak perlu bersumpah. Buat apa bersumpah? Ingin menegaskan kepada pacarnya dan teman-teman pacarnya itu bahwa dia setia? Bahwa dia laki-laki baik-baik? Bahwa dia tidak ada cela, sementara akulah sipenganggu? Akulah yang merusak hubungan perkawanannya dengan seseorang, dan kemudian menjadi ancaman bagi hubungannya dengan pacarnya, yang memodali dia selama ini?”

Perempuan itu mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Lalu tiba-tiba meludah ke tanah. Huh! Aku sempat kaget. Kupikir dia akan bereksperimen dengan meludahiku juga. Ampun deh…

“Pengecut berbaju kiri. Aku rasa itu julukan paling tepat buat dia saat ini dan seterusnya.”

Hmmm. Sebentar, perempuan….boleh aku bicara?

Perempuan itu diam. Tidak menolak atau mengiyakan.

Aku rasa dalam diri semua orang yang paling pemberani sekalipun selalu ada sikap pengecut……..

Perempuan itu menatapku tajam, seperti ingin mengiris-irisku.

Ya. Begitulah. Sikap ‘pengecut’ yang sebenarnya untuk melindungimu. Dia takut untuk mengakui secara terbuka bahwa dia mencintaimu, karena itu akan melukai orang lain, dan pada akhirnya, mengganggu kerja-kerjanya selama ini. Dia harus memilih. Dan dia memilih, apa yang menurutnya paling berpeluang untuk melancarkan kerja-kerjanya.

“I’m not surprised.” Perempuan itu tersenyum getir.

Mungkin laki-laki itu hanya tidak kuasa untuk terlalu keras padamu. Dia ingin ‘menyingkirkan’mu, karena dia tidak ingin kamu terus menerus merasa tidak nyaman berada di lingkungannya. Di matamu dia tampak seperti pengecut, tapi mungkin yang terjadi sesungguhnya adalah, dia sedang mengorbankan citranya di matamu, agar kamu membencinya dan dengan ‘senang hati’ menjauh.

“Hahaha. Menggelikan.”

Aku membuang pandanganku, seolah tak acuh.  Dan kamu sendiri… selama ini bersikap pengecut juga, bukan?

Aku bisa merasakan perempuan itu kini menatapku dengan tatapan membakar.

“Maksud kamu…………..”

Ya. Kamu tidak berani bersikap tegas dalam menghadapi masalahmu dengan suamimu, bukan? Kamu takut jika harus berpisah, dan meninggalkan kenyamanan materi selama ini dengannnya bukan? Kamu terlalu pengecut untuk secara terbuka mengatakan kepada suamimu; “Yes, we have a serious problem!” dan mengajukan beberapa opsi, di antaranya berpisah, bukan? Ya, kamu pengecut! Dan di antara semua alasan itu, kamu paling takut berpisah dengan anakmu bukan?

Perempuan itu diam, dengan bibir bergetar.

Sekonyong-konyong ia bangkit. Aku agak terlambat mengelak. Tangannya sudah merebut cangkir moccachinoku yang tinggal separuh, dan melemparkannya ke arah mukaku. Aku berusaha menepisnya, tapi terlambat. Sebagian wajahku terciprat sudah. Sebagian lain membasahi blus putihku. Cangkir itu sendiri terhempas ke tembok, dan pecah berkeping, menyobek keheningan di café sore itu.

Seorang petugas café menghampiriku, dengan tatapan takut dan cemas. Sementara ia membereskan semua bekas kericuhan, aku menatap titik di mana perempuan itu semula berada.

Kosong.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aku dan dia · Uncategorized

Putus!

April 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kompas hari ini mengangkat headline: “SBY-JK cerai!”. Media Indonesia bahkan memuat foto SBY memimpin rapat terbatas, dengan kursi Wapres kosong melompong di sampingnya. Sebuah duet sedang berakhir. Putus!

Putus, cerai, atau apapun, bukan hal yang aneh. Tidak ada yang menjamin suatu hubungan – semesra apapun – akan langgeng. Kita hanya tidak tahu persis kapan akhir itu datang. Dan saya juga sedang tidak membahas “kemesraan” SBY-JK secara khusus. Lagipula, dari dulu di mata saya memang mereka tidak punya chemistry. Relasi murni berasas politik, bukan ideologi, jadi tentu saja, usianya seumur fase proses politik kita. Kalau jangka waktu pemilu kita 3 bulan, ya 3 bulanlah usianya. Bahkan lebih singkat.

Namun, putusnya SBY-JK, bagaimanapun membuka mata saya. “Putus” bukan sesuatu yang nikmat di telinga, dan juga tidak manis di lidah, tapi toh saya kerap kali mempraktikkannya. Saya ingat, sudah beberapa bulan ini, saya putus hubungan dengan beberapa pihak. Sebagian secara clear, jelas, sebagian tidak. Sebagian di awali dengan “pengkhianatan”, sebagian lain “pengkhianatan” terjadi kemudian. Lucunya, keduanya sudah saya prediksi.Kalau SBY sempat gerah di awal dengan menyebar rumor; Asal bukan “S”, saya sih berusaha tenang dan bersyukur. Bersyukur bahwa saya sudah cukup siap mental karena mengetahuinya beberapa waktu sebelumnya.

Meskipun, jujur, putus dengan rekan kerja, sama menyedihkannya dengan putus pacar atau kekasih. Kerja dan bercinta, bagi saya cuma berbeda di mana melakukannya. Keduanya membutuhkan hasrat, komunikasi, dan orgasme. Kita menyadari eksistensi kita ketika nafsu sudah di ubun-ubun, dan nafas bercampur keringat mengejar hasil maksimal, hingga berakhir dengan desah puas. Intensitas yang mencuatkan sisi paling manusiawi dari interaksi antar manusia.

Dan itulah saya. Mungkin kamu juga.

Jadi? Ah. Putus…!

→ Tinggalkan KomentarKategori: Harian · Refleksi

Seharusnya..

April 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kadang aku bingung sendiri. Beberapa kali aku berada pada situasi di mana seharusnya aku panik, tapi aku tetap dingin. Mungkin bukan karena ketenangan sejati. Mungkin aku hanya mencoba mengabaikan ketakutanku.

Aku takut merasa takut.

Seperti saat ini.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aku dan dia · Harian · Refleksi