“Cinta tidak sama dengan keinginan untuk memiliki.” Kata-kata yang keluar dari bibir Maria di ujung sakaratul mautnya seakan ingin mempertegas makna keikhlasan yang digembar-gemborkan film Ayat-Ayat Cinta ini. Di hadapan suaminya, Fachri, dan madunya, Aisyah, Maria seakan ingin merevisi persepsinya tentang cinta, yang pernah membuatnya begitu merana begitu Fachri menikahi Aisyah. Penderitaan panjang yang kemudian meluluhkan hati Aisyah (atau mendorong Aisyah untuk nekad?) sehingga meminta Fachri menikahi Aisyah, demi membangunkannya dari koma dan kemudian menjadi saksi dari pihak Fachri untuk kasus tuduhan perkosaan yang dihadapinya.
Ah, tiba-tiba saya kehilangan makna keikhlasan itu. Di mana keikhlasan yang dimaksud film ini?
Film ini fokus pada sosok Fachri, yang digambarkan alim, pintar, digemari banyak perempuan (ah, jadi ingat si Boy dalam Catatan si Boy – bedanya Fachri bukan dari keluarga kaya). Cerita mengalir dari persahabatan Fachri dengan Maria, Nurul, perkenalan dengan Noura yang diselamatkannya dari kebengisan ayah tirinya, hingga akhirnya bertemu Aisyah yang kemudian menjadi istri (pertama)nya. Meski ada banyak perempuan, tapi film ini lebih fokus pada relasi segitiga Fachri-Aisyah-Maria. Aisyah adalah istri pertama Fachri, yang kemudian banyak menentukan jalan hidup Fachri, termasuk dengan meminta Fachri menikahi Maria di kala sakit. Tujuannya, agar Maria sembuh, dan bisa bersaksi yang meringankan Fachri, dan bayi di kandungan Aisyah bisa lahir dengan ayah. Maria, mencintai Fachri diam-diam, dan tidak merelakannya menikahi Aisyah, yang menyebabkannya sakit parah. Fachri, apa yang bisa diangkat dari karakter Fachri? Sepanjang film yang menonjol adalah seorang laki-laki yang tidak bisa menentukan sendiri hidupnya, bahkan keputusan untuk berpoligami tidak lahir dari dirinya sendiri. Cerita menuntut film ini bertutur tentang poligami yang lahir karena keterpaksaan, sehingga kemudian, tidak ada keikhlasan. Ya wajar, lha prosesnya saja diawali dengan terpaksa. Meski tidak jelas mengapa Fachri yang muslim taat awalnya seperti berat melakukan poligami. Sedangkan Aisyah, ya wajarlah keberatan, tidak perlu dibahas.
Yang terjadi memang tidak ada keiklasan akhirnya. Aisyah, tidak ikhlas dimadu. Dia menjalaninya karena mengandung bayi Fachri. Maria, tidak ikhlas ditinggal Fachri menikah. Dia menghukum dirinya dengan cara sakit, dan ketika menikah dengan Fachri pun, dia kemudian seperti merevisi apa yang dijalaninya: Cinta tidak sama dengan keinginan memiliki. Seperti tidak ada yang benar dalam hidup Maria! Begitupun Aisyah, posisinya seperti makan buah simalakama. Satu-satunya tokoh yang “diuntungkan” dalam film ini hanya Fachri. “Ketidakberuntungannya” hanya ketika difitnah (yang itupun diselamatkan oleh Aisyah, dengan cara mengorbankan nuraninya sendiri untuk tetap monogamis), dan ketika bingung membagi perhatian dengan dua istri. Ah, kenapa film ini jadi begitu klise? Dua perempuan memutuskan untuk menderita dan mengorbankan dirinya, demi satu laki-laki?
Bicara poligami, mau tidak mau kita harus membandingkan film ini dengan Berbagi Suami ala Nia Dinata. Perbedaan utamanya adalah, dalam memutuskan poligami. Dalam film Nia, keputusan poligami ada di tangan laki-laki. Laki-laki memang ‘buaya’…kira-kira begitu pesan Nia dalam filmnya. Sedangkan Fachri melakukannya karena desakan Aisyah. Mungkin memang situasi itu (Gagasan poligami lahir dari keputusan perempuan) yang diidamkan banyak orang, sehingga film ini begitu menyita kursi (setidaknya sampai semalam saya nonton, hampir kehabisan tiket!). Sehingga laki-laki tidak perlu petak umpet kawin lagi. Meskipun toh yang sakit ya perempuan juga akhirnya. Ya, kedua film ini menggambarkan dilemma yang harus dijalani perempuan dalam poligami. Ketidakberdayaan lebih tepat menggambarkan situasi yang mengemuka, dan bukan keikhlasan.
Menonton AAC, jujur saja, tidak begitu berkesan bagi saya. Temanya tiba-tiba jadi begitu klise: perempuan yang rela menderita untuk laki-laki. Bagaimana tidak klise, situasi ini muncul hampir di semua sinetron kita, mulai dari yang bersetting seragam putih biru, putih abu-abu, kuliah, rumah tangga. Yang mengesankan saya hanyalah pelajaran keikhlasan yang disampaikan oleh teman satu sel tahanan Fachri; selebihnya biasa saja. Satu lagi, kata-kata ungkapan cinta yang disampaikan Maria (yang mengibaratkan hubungannya dengan Fachri seperti Sungai Nil dan Mesir) dan Noura lewat surat cintanya (saya lupa kata-katanya, tapi sangat menyentuh..!!) Selebihnya biasa, bahkan klise. Saya agak kecewa dengan sutradara Hanung Bramantyo yang biasanya bisa menyajikan hal baru lewat film (saya masih lebih terkesan dengan Jomblo (the movie) dan Catatan Akhir Sekolah), kini malah seperti terjebak dalam tema klise yang biasa disajikan sinetron. Setidaknya, setelah menonton film ini saya jadi ingat kata-kata seorang kawan bahwa; cinta itu ibarat kentut..jika ditahan, bikin sakit perut! Hahaha..mungkin ada benarnya. Janganlah menahan perasaanmu, tapi tunjukkanlah… barulah kita bisa ikhlas sesudahnya.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.