Perempuan itu sudah duduk di kursinya, saat aku datang. Haha, tumben dia mendahuluiku. Nafasku agak tersengal ketika menarik kursi dan menghempaskan pantatku di atasnya.
“Maaf…..” Aku mencoba tersenyum. Perempuan itu tak membalasku. Dia hanya diam. Wajahnya agak memerah.
Hei…ada apa?
“Aku minta tolong sesuatu, bisa?” Perempuan itu tampak begitu bertekad bulat. “Diamlah sejenak, beberapa detik saja.”
Tak sempat aku menarik napas, aku melihat perempuan itu mengangkat cangkir kopinya ke atas kepalaku. Aku terdiam kaku, badanku beku bagai kena sihir. Dengan perlahan, perempuan itu mengayunkan cangkirnya, dan hanya sekian centi dari rambutku, menumpahkan isi kopi itu melewati pundakku.
Mulutku ternganga bagai baru melihat ilusi kelas tinggi. Kamu…..!!
“Hahahahahaaha…” Perempuan itu tertawa lepas. Dasar perempuan sinting. Aku dapat mencium aroma kopi yang sedikit menumpahi pundakku, dan mungkin juga rambutku.
“Kamu tahu…? Aku baru saja membayangkan kamu sebagai orang itu…..”
Hah. Orang yang mana? Kamu kemarin bercerita tentang hasratmu yang muncul kembali, ketika ia kembali menyapamu. Kini kamu ingin menumpahkan secangkir kopi panas di rambutnya?
“Bukan orang yang kemarin menyapaku..” Perempuan itu mendengus. “Dengan dia, hubungan kami tetap baik. Kami tetap berteman baik, meskipun tidak seperti kebanyakan teman. Hahaha. Ini, tentang orang yang kuperkenalkan ke kamu lewat ceritaku yang pertama..”
Owh. Aku sejenak diam mengingat-ingat. Kunyalakan laptop, dan sambil menunggu, aku melayangkan pikiran pada suatu cerita yang menurutku aneh, dan agak gila.
Oooh…yang itu….kenapa dia? Kalian sudah berbaikan? Eh…salah ya..hehehe.. Aku terkekeh sumbang. Perempuan itu tersenyum, menyeringai tepatnya.
“Ya, ‘berbaikan’. Dan ‘salam’ yang ingin kusampaikan kepadanya adalah, menyiramnya dengan kopi seperti tadi.”
Hei.. ada apa lagi? Kupikir kamu sudah melupakan kemarahanmu karena soal proyek kalian dulu itu.
“Sebenarnya, iya. Soal proyek itu, meskipun sampai detik ini dia tidak punya nyali untuk menjelaskannya kepadaku seperti komitmen awal kami sebagai tim, tapi aku mulai memaafkannya. Memaafkan, meski tidak melupakan.”
Ah, syukurlah…. Aku tidak menyembunyikan kelegaanku. Moccachino yang tiba di mejaku langsung kuhirup aromanya. Senyumku merebak di bibir cangkirnya.
“Tapi memang, memaafkan pun ada ujiannya. Aku mendengar bahwa, dia pernah bersumpah untuk tidak menghubungiku, demi kelancaran fasilitas dari pacarnya.”
Oya? Benarkah? Lagi-lagi, mulutku ternganga.
“Aku belum konfirmasikan ke dia, tapi aku yakin itu benar. Aku pun berpikir demikian, dulu itu. Tapi aku tidak menyangka akan mendengar pembenarannya, meski bukan dari dia langsung. Sejak kami ribut-ribut soal itu, dan dia memilih berlindung di balik ‘ketiak’ pacarnya, aku sudah menganggap dia tidak lebih dari pengecut berbaju kiri. Ya, ironis sekali, salah satu penggerak kegiatan kiri yang dianggap berani itu tidak lebih dari seorang pengecut. A real coward….!”
Eh, sebentar..sebentar…
Aku menghirup moccachinoku, mengecek layar komputerku, dan menatap matanya. Wajah perempuan itu memerah. Aku bisa merasakan hawa kemarahan dan kebencian yang kuat. Tapi kenapa? Kenapa kamu harus marah dengan adanya sumpah itu?
“Aku pikir, kalau dia ingin meninggalkanku, tinggalkan saja, tidak perlu bersumpah. Buat apa bersumpah? Ingin menegaskan kepada pacarnya dan teman-teman pacarnya itu bahwa dia setia? Bahwa dia laki-laki baik-baik? Bahwa dia tidak ada cela, sementara akulah sipenganggu? Akulah yang merusak hubungan perkawanannya dengan seseorang, dan kemudian menjadi ancaman bagi hubungannya dengan pacarnya, yang memodali dia selama ini?”
Perempuan itu mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Lalu tiba-tiba meludah ke tanah. Huh! Aku sempat kaget. Kupikir dia akan bereksperimen dengan meludahiku juga. Ampun deh…
“Pengecut berbaju kiri. Aku rasa itu julukan paling tepat buat dia saat ini dan seterusnya.”
Hmmm. Sebentar, perempuan….boleh aku bicara?
Perempuan itu diam. Tidak menolak atau mengiyakan.
Aku rasa dalam diri semua orang yang paling pemberani sekalipun selalu ada sikap pengecut……..
Perempuan itu menatapku tajam, seperti ingin mengiris-irisku.
Ya. Begitulah. Sikap ‘pengecut’ yang sebenarnya untuk melindungimu. Dia takut untuk mengakui secara terbuka bahwa dia mencintaimu, karena itu akan melukai orang lain, dan pada akhirnya, mengganggu kerja-kerjanya selama ini. Dia harus memilih. Dan dia memilih, apa yang menurutnya paling berpeluang untuk melancarkan kerja-kerjanya.
“I’m not surprised.” Perempuan itu tersenyum getir.
Mungkin laki-laki itu hanya tidak kuasa untuk terlalu keras padamu. Dia ingin ‘menyingkirkan’mu, karena dia tidak ingin kamu terus menerus merasa tidak nyaman berada di lingkungannya. Di matamu dia tampak seperti pengecut, tapi mungkin yang terjadi sesungguhnya adalah, dia sedang mengorbankan citranya di matamu, agar kamu membencinya dan dengan ‘senang hati’ menjauh.
“Hahaha. Menggelikan.”
Aku membuang pandanganku, seolah tak acuh. Dan kamu sendiri… selama ini bersikap pengecut juga, bukan?
Aku bisa merasakan perempuan itu kini menatapku dengan tatapan membakar.
“Maksud kamu…………..”
Ya. Kamu tidak berani bersikap tegas dalam menghadapi masalahmu dengan suamimu, bukan? Kamu takut jika harus berpisah, dan meninggalkan kenyamanan materi selama ini dengannnya bukan? Kamu terlalu pengecut untuk secara terbuka mengatakan kepada suamimu; “Yes, we have a serious problem!” dan mengajukan beberapa opsi, di antaranya berpisah, bukan? Ya, kamu pengecut! Dan di antara semua alasan itu, kamu paling takut berpisah dengan anakmu bukan?
Perempuan itu diam, dengan bibir bergetar.
Sekonyong-konyong ia bangkit. Aku agak terlambat mengelak. Tangannya sudah merebut cangkir moccachinoku yang tinggal separuh, dan melemparkannya ke arah mukaku. Aku berusaha menepisnya, tapi terlambat. Sebagian wajahku terciprat sudah. Sebagian lain membasahi blus putihku. Cangkir itu sendiri terhempas ke tembok, dan pecah berkeping, menyobek keheningan di café sore itu.
Seorang petugas café menghampiriku, dengan tatapan takut dan cemas. Sementara ia membereskan semua bekas kericuhan, aku menatap titik di mana perempuan itu semula berada.
Kosong.