Aku dan Perempuan Itu..

“Kapan kamu melanjutkan kisah “Perempuan itu?” Aku menunggu-nunggu kelanjutannya..”
Seorang kawan mengingatkanku beberapa hari lalu.
Tunggu sajalah, aku bilang. Aku memang tidak bisa menjanjikan kisah “Perempuan Itu” bisa dilanjutkan sewaktu-waktu. Kenapa? Karena kisah itu muncul dan mengalir tanpa bisa aku duga. Sebagaimana aku mengenal “perempuan itu” juga tanpa aku duga.

Selembar ingatanku melayang di beberapa waktu lalu.

Aku bertemu perempuan itu kira-kira dua tahun lalu. Saat itu aku sedang jenuh. Begitu banyak yang kupikirkan, tapi hanya tercekat diam di benak. Aku butuh pelepasan. Dan, muncullah ia.
Awal pertemuan yang biasa, nyaris tanpa kesan. Kesan itu baru muncul ketika kami mulai saling terbuka.Kami punya banyak kesamaan. Sama-sama sudah menikah, dan punya anak. Tapi lambat laun kami saling mengenali sisi kami yang berbeda. Aku dan dia, nyaris tidak pernah sependapat dalam banyak hal. Tapi itulah yang membuat kami dekat satu sama lain. Kami sama-sama tertarik dengan permasalahan sosial, dan lebih dari itu, juga memperdebatkannya. Jika aku beranggapan “solusinya adalah A,” dia akan mengatakan “B”. Begitu seterusnya. Bahkan ketika aku mencoba mengikuti pendapatnya, dia akan mengungkap antitesis pendapatnya sendiri.

Ah, menyenangkan sekali menjadi aktivis, komentarku suatu ketika, sesaat begitu beranda facebook terbentang di layar komputer jinjingku. Semangat sekali mereka menentang neoliberalisme, demi kesejahteraan rakyat banyak. Ingin rasanya turun ke jalan lagi dan melakukan lagi aksi-aksi seperti itu..
Perempuan itu, dengan mulut masih berasap dari rokok putihnya, tergelak kecil.
“Hahaha. Kamu ketularan ABG-ABG itu? Yang benar saja! Mereka cuma mengalami euphoria kiri…pakai kaos bergambar Che Guevara, mengibarkan bendera merah, dan berteriak “anti neolib” untuk suatu kebanggaan semu…!”
Ketularan? Tidak. Bagiku mereka luar biasa berani, memutuskan untuk menentang kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat miskin. Mereka berani memperjuangkan keadilan..!

Aku tidak tahan untuk kemudian berbagi cerita bagaimana dulu – sembilan tahun lalu – aku juga sempat terlibat dalam kerja-kerja menentang golongan penguasa yang telah semena-mena terhadap minoritas – meski tidak intens. Namun aku masih memelihara semangat keadilan itu. Dan semangat itu mewarnai kerja-kerjaku selanjutnya, meski tidak lagi sepenuhnya di jalan. Selalu ada kegelisahan yang membuatku terus bertanya – apakah yang proyek yang kujalankan ini sudah mencerminkan keadilan? Dan pertanyaan berikutnya yang terus menerus menjerat benak dan hatiku selalu sama:
Sejauh mana kita berani menderita untuk hal satu itu…keadilan?

“Hahaha..memangnya berapa lama mereka berani menderita, berpayah-payah, untuk sepotong keadilan?” Damn! Perempuan itu, bagaikan iblis yang lihai menyelusup ke sanubariku, dan menertawakan kegamanganku di situ.

“Ya, begitulah. Memperjuangkan sesuatu itu butuh penderitaan. Dan kamu tahu? Hanya segelintir aktivis kita yang rela menderita. Mereka bilang anti kapitalisme, tapi memilih tinggal di apartemen mewah, minum kopi seharga 20 – 40 ribu pergelas, menyantap pizza, mengadakan pertemuan di hotel berbintang, merokok merek luar. Aktivis? Aku lebih suka menyebut mereka borjuis “berbulu” aktivis,” ia memelesetkan ungkapan “serigala berbulu domba”.

Aku tidak setuju. Lebih banyak yang menjalani hidup biasa-biasa saja, bahkan berbaur dengan masyarakat kebanyakan. Mereka terjun ke pasar-pasar tradisional, berbaur di antara buruh-buruh pabrik, mengecap keringat di antara karya-karya propaganda yang mereka ciptakan.
“Oya? Dan menurutmu, sampai kapan mereka akan bertahan?”
Aku terdiam. Cerita-cerita tentang sebagian aktivis – yang semula hidup lusuh, dekil dan bergelimang keringat karena banyak menghabiskan waktu demi aksi di jalan-jalan dan kini hidup bak flamboyant, necis wangi dan “mboyis (jawa: stylish)” – berkelebat di benakku. Bukan karena demokrasi yang dicita-citakan sudah tercapai, apalagi revolusi – atau apapun itu. Bukan. Mereka memang beralih haluan. Tapi, toh tidak semua begitu?
“Tidak semua begitu, karena tidak semua berkesempatan untuk begitu,” perempuan itu terkekeh geli melihat aku diam bengong bagai gadis udik menonton gemerlap kota.
Ah, kau dan aku memang tidak pernah sepaham, aku menolak mengalah begitu saja. Mungkin saat ini aku tidak bisa meyakinkanmu, tapi percayalah, kata-katamu tidak menggoyahkanku begitu saja.


“Saat ini, aku memang tidak menggoyahkanmu begitu saja…”Perempuan itu menatapku lekat-lekat. “But, I’m very sure that you won’t forget every single word I said. Tidakkah kamu menyadari? Kamu mudah gelisah. Dan ketidaksepahaman ini akan terus menggelisahkanmu. Kegelisahanmulah yang membawamu padaku…”
Perempuan itu menghisap rokoknya, dalam sekali.
“Bagaimana keluargamu? Suamimu? Anakmu?” tiba-tiba ia bertanya.
Baik, jawabku singkat dan tegas. Aku sedang menikmati menjadi ibu dan istri seutuhnya. Anakku sedang mulai bersekolah, jadi kuputuskan lebih banyak di rumah, menjalani peranku sebagai ibu dan partner rumah tangga bagi suamiku. I think my life is almost perfect.
“Yaya…kalau kamu jadi aktivis, kamu pasti akan tinggalkan sebagian kenyamanan itu,” katanya. “Kamu akan lebih banyak mementingkan publik. Pertanyaanku, apakah kamu bahagia dengan pilihanmu?”
Tentu aku bahagia. Sialan. Pertanyaan macam apa pula ini?
“Karena kamu punya banyak kegelisahan, dan aku yakin kamu merasa kegelisahan itu tidak bisa sepenuhnya tertumpahkan di wilayah domestik.”
Tidak juga. Aku tidak ingin jauh dari keluargaku, itu inti kebahagiaan yang kucari.
“Aku juga hidup dari kegelisahan. Dan, sialnya, aku bisa katakan bahwa – kegelisahan itu juga menjadi dasar dari petualanganku. Kegelisahan itulah yang membuatku mengenal dekat beberapa lelaki, bukan hanya cara berpikirnya, tapi juga…..” ia tertawa kecil. “…….permainannya di tempat tidur.”
Hmm! Wajahku tibatiba merona merah. Perempuan sialan.
Kamu maniak seks ya? Aku tidak bisa menahan sinisku, yang sebenarnya – untuk menutupi rasa jengah.
“Ah, bukan itu, kawan. Aku cuma menjadi – apa yang disebut – Marxist Freudian. Kamu tau itu? Menurut aliran ini, dorongan seks yang senantiasa dapat dilampiaskan, akan mendukung terjadinya revolusi. Dengan kata lain, revolusi tidak dapat terjadi dengan adanya pengekangan dorongan-dorongan seksual.”
Dan ia tergelak menertawakan ekspresiku yang mungkin jadi lucu di matanya.
Hah. Baru kali ini aku mendengar pendekatan psikoanalisis menjadi amunisi sebuah perjuangan masyarakat kelas. Aku sering mendengar Marxist Lenin, Marxist Engel, dan seterusnya. Tapi Marxist Freudian? Jika benar terjadi perilaku promiskuitas antara para aktivis, aku rasa mereka juga sedang ‘mengamalkan’ aliran satu itu. Edan. Mendengar ungkapan bahwa : ‘seks tidak lebih dari minuman – yang kita minum di saat kita haus’ saja sudah membuatku muak setengah mati. Kini malah aku mendengar sendiri ideologi yang sangat mungkin ikut bertanggungjawab atas lahirnya gagasan “seks sebagai minuman” itu.
Begitulah hubunganku dengan perempuan itu. Ingin benar, aku tambahkan “sinting” sebagai nama tengahnya. Perempuan sinting itu. Tapi menurutku kurang pas juga. Ada kalanya, kuakui, dia benar. Mungkin kenyataan yang dikemukakannyalah yang sinting.
Faktanya, dunia memang tidak hitam putih, tidak sesederhana sebidang kertas bertulisan kata-kata. Perempuan itu, suka atau tidak, membantuku melihat satu hal dari banyak sisi. Kadang tidak selalu bertentangan. Seperti, ketika kami menyikapi fenomena #Indonesiaunite. Respon masyarakat yang menolak terorisme ini tidak membuatku tergugah. Mengapa?
Jika mereka ingin Indonesia damai, gugatku sebal; mereka harus menyadari soal ketidakadilan antar masyarakat kelas. Dan itu dampaknya lebih besar daripada pengeboman hotel taraf internasional.
Perempuan itu terpingkal hingga menetes air matanya. “Tau kenapa namanya Indonesiaunite? Aku rasa itu bentuk pelampiasan kekecewaan mereka atas batalnya kedatangan Manchester United ke Indonesia. No Manchester United, Indonesia United sajalah.” Dan kini ganti aku yang tergelak.
“Tapi, bagaimanapun, aku akui mereka berhasil menjaring dukungan luas. Gagasannya sederhana dengan momentum yang pas. Bukan hanya mahasiswa, ibu-ibu rumahtangga juga merasa bisa ikut terlibat. Bersatu, be united! Bukan be underdog! Atau un – un – lain!”
Tapi Indonesia bersatu untuk siapa? Slogan itu lebih terdengar seperti indoktrinasi penguasa untuk meredam isu ketidakadilan yang lebih substansial. Hmm, gemasku belum terpuaskan.

“Ah, kamu terlalu naïf kalau menganggap slogan itu gambaran situasi saat ini. Buatku, slogan itu bersifat visioner. Gambaran masa depan Indonesia dengan masyarakat tanpa kelas.” Dan ia lagi-lagi terkekeh. “Meskipun aku tetap yakin pemicu slogan itu kekecewaan melihat pemain Manchester United.”

Begitulah, kami berdebat, dan kadang saling menertawakan. Semakin aku membenci pemikiran-pemikirannya, makin aku membutuhkannya. Semakin kuanggap gila, makin dalam aku ingin menyelaminya.
Dan aku yakin ia pun begitu. Kami saling membutuhkan, lebih dari yang kami bayangkan. Tapi, kehadirannya begitu sulit aku duga. Kadang aku ingin melupakannya, tapi ada saja yang membuatku ingat. Terakhir, saat aku mengetahui kutipan kata-katanya dijadikan status salah satu kawanku di jejaring sosial facebook.

Saat itulah, tiba-tiba aku seperti tersiksa rindu.
Tunggu sajalah, kataku saat kawanku menanyakan kelanjutan kisah perempuan itu. Rupanya ia menikmatinya seperti sebuah game.
Dan inilah uniknya ‘game’ ini.
Bukan saja kapan dilanjutkan, bahkan aku tidak tahu kapan serta bagaimana menghentikannya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s