Kesukaanku ber-facebook ria, ternyata mempertemukan aku dengan seorang kawan lama. Sewaktu dia add, ingatanku langsung kepada mug Jakjazz’95 yang masih aku simpan hingga sekarang. Mug besar, 3 kali ukuran normal, memang jadi kesayanganku. Bayangkan, sejak aku pindah dari kediaman Bude tahun 1995 (means 14 tahun lalu!), dan pindah kos hingga 3 kali, hingga ketika pindah ke rumah keluarga suami aku tahun 2003, lalu pindah ke kontrakan di tahun yang sama, dan terakhir bermukim di rumah kami yang sekarang sejak 2004, mug itu tidak pernah tertinggal. Meski mengepaknya memang agak repot, karena harus aku bungkus dengan kertas bekas berlapis-lapis agar tidak pecah. Dan kini mug itu terpajang manis di lemari makan rumah yang kutempati saat ini di Yogya.
Aku pernah punya macam-macam mug; sebagian dari orang-orang yang aku kasihi. Tapi begitulah, nasibnya berakhir dengan hilang atau pecah begitu saja. Dan mug raksasa – bertulisan bintang-bintang jazz terkemuka, Indonesia maupun manca – ternyata begitu ‘setia’ mengikuti aku. Kondisinya pun baik-baik saja.
Dan aku bersyukur, karena hal itu menjadi pembuka percakapan kami yang lumayan bagus.
Kawanku itu, ternyata sudah sekitar enam tahun tinggal dan bekerja di Inggris, di bidang konstruksi, sesuai latarbelakang dia; teknik sipil. Yang membuat aku terkaget-kaget, ia masih mengingat masa-masa mencari rumahku di Pancoran. Dulu kami kerap ketemu di Gelanggang Mahasiswa. Dia aktif di band mahasiswa, sementara aku Kempo. Interaksi kami tidak banyak, sehingga cukup mengherankan, kami tidak saling melupakan setelah 14 tahun sekalipun.
“Aku akan ke Yogyakarta Agustus, meet up?” Aku membaca message yang masuk di kotak surat facebook aku. Aku mengiyakan. Dan dua minggu lalu kami kemudian ketemu di suatu café di Gejayan, Yogyakarta. Bayangan bahwa pertemuan kami akan canggung, ternyata buyar sama sekali. Entah kenapa, kami langsung cair. Seperti dua orang sahabat lama yang begitu lama tidak bersua.
Selain rambutnya yang mulai banyak memutih, tidak ada yang berubah. Logatnya pun tidak lantas ‘logat keju’ alias kebarat-baratan. Dialek Jogjanya tetap kental. Padahal selama di sana, dia menceritakan bagaimana kehidupannya yang cenderung being isolated, sehingga tidak banyak bergaul dengan Indonesian community. Bekerja, dan bekerja, serta networking. Begitulah. Hidupnya nyaris sempurna untuk ukuran laki-laki di mana pun. Charming, karir mapan. Hanya kurang beruntung dalam hal pernikahan. Ia baru saja bercerai.
Kami bicara banyak hal, tapi salah satu topik menarik kami adalah tentang transportasi. Rupanya dia sedang mengembangkan minatnya terkait transportasi. Kami bicara tentang kaitan transportasi dan budaya. Aku cerita pengalamanku menumpang jeepney, angkutan umum khas Philippine. Aku ceritakan bagaimana penumpang yang duduk jauh dari sopir, tidak perlu bersusah payah menggapai sopir untuk membayar, cukup menitipkan pada penumpang di dekatnya. Intinya adalah, bagaimana transportasi mengembangkan budaya saling percaya antar warganya.
“That’s excellent,” katanya. Ia bilang kemudian, budaya demikian mirip dengan di lift di sana – siapa yang terdekat dengan tombol, dia yang akan membantu menekan tombol. Ada semacam kesepakatan umum yang mengatur perilaku pemakai transportasi. Tapi beralih ke Indonesia, contoh-contoh negatif banyak bertaburan. Mulai dari perilaku pengendara motor yang sembarangan, menerima telpon atau bahkan ber-sms saat menyupir, hingga budaya korupsi yang mengakar. Dan kawanku itu mengakui, sebagai seorang idealis – pilihannya adalah tetap tinggal dan bekerja di Inggris, bukan di Indonesia. “Di Indonesia, Put..”katanya agak emosi. “Mendapatkan proyek harus dengan sogok sana sini. Aku tidak bisa begitu.”
Ada pesimisme di sana, yang aku akui kebenarannya. Bicara soal budaya, merupakan pekerjaan besar yang tidak bisa diubah dalam jangka waktu singkat. Pilihannya tinggal pada kita – terjun ke dalamnya dengan konsekuensi ikut terombang ambing arus budaya tersebut, atau memilih arus lain yang tidak dicemari budaya tersebut. Dan kawanku memilih yang kedua.
Tidak terasa 4 jam sudah kami mengobrol. “Kalau kamu mau menulis soal transportasi, kontak aku ya Put,” pintanya. “Kelihatannya kamu suka menulis. Aku baca blog kamu lho.”
Hmm..aku hanya bisa nyengir. Usulan yang menarik. Semenarik proses kami bertemu setelah belasan tahun, dan bagaimana kami nyaris tidak kehilangan bahan percakapan selama 4 jam. Mulai dari soal cat rambut, – (menarik sekali mengetahui begitu banyak pertimbangannya soal itu, sementara banyak orang begitu saja gonta ganti warna rambut sesuka hati – pasti memilih calon istri kedua jauh lebih ribet lagi! Hehehe) – hingga transportasi. Dan aku bersyukur memilih tempat dengan variasi menu yang tidak melulu pedas. Lidahnya sangat Jawa, alis manis oriented. Begitu bertolak belakang denganku yang doyan pedas. Alhasil kami ngobrol ditemani sepiring nasi goreng seafood dan calamari dengan saus manis, serta ubi manis. Lalu kami berpisah – setelah dengan nada yang kali ini – aku tangkap sedikit canggung – dia mengingatkanku untuk pulang: “Kamu kan punya suami dan anak………….”
Terima kasih untuk pertemuan ini, kawan. Tentu aku berharap pertemuan selanjutnya tidak menunggu belasan tahun lagi.
Dan mungkin, saat itu dia sudah tidak sendiri.