Diet, Garam, dan Impor Pangan

Saya sedang diet. Bagi yang pernah melihat saya, mungkin terperangah. Sudah kurus begini (berat 53 kg, tinggi 164 cm), masih diet? Kurang kurus apa lagi?

Tapi itu bukan keheranan yang aneh. Umumnya kita memang menganggap diet itu tidak lebih daripada mengurangi porsi makan, untuk menurunkan berat badan. Beda tipislah, dengan puasa. Bedanya, puasa didahului niat, hanya pada hari tertentu, dan Insya Allah, mendapat pahala dariNya. Sedangkan diet, bagi saya – yang entah dikutip dari mana, saya lupa – adalah suatu perilaku pengaturan pola makan maupun apa yang dimakan, yang dilakukan secara sadar karena menyadari manfaatnya.

Saya sendiri tidak ingat bahwa sedang diet, karena saya jalani begitu saja secara teratur. Ingatan muncul, ketika adik my hubby yang laki-laki – datang ke rumah. Karena saya hanya punya tempe, saya tawari tempe goreng. Dan jawabnya; “aku minta tempe mentah saja , dua iris.”

Waw, tempe mentah? Reaksi pertamaku, bengong. Yang benar saja, masak hanya makan kacang kedelai yang terbalut ragi segar begitu saja? Tapi saya turuti. Kebetulan saya punya yang dibungkus daun pisang, favorit saya juga. Tempe, adalah panganan favorit keluarga, termasuk anakku. Hanya belum terpikir menyantapnya mentah-mentah. Lalu, ipar saya itu bercerita soal kawan-kawannya yang hanya menyantap tempe mentah dan madu. Kawan-kawannya itu – yang berusia tujuh puluhan tahun – masih tetap segar dan berstamina – bahkan masih kuat menempuh jarak ratusan kilometer dengan menyupiri sendiri – konon karena apa yang dimakannya tersebut. Sebagian besar usia yang dihabiskan sebagai tahanan politik di Pulau Buru tampaknya ikut mempengaruhi pola makan mereka. Dan ipar saya pun ikut ‘tertular’ kebiasaan tersebut.

Tapi bicara tempe dulu dan sekarang, tentu beda. Sekarang, tempe, bukan lagi ‘milik’ Indonesia. Beberapa perusahaan asing sudah menguasai hak paten produksinya secara skala internasional. Bahkan konon, hak paten itu pula yang menjegal sosok Sobron Aidit, ketika dalam pengasingannya di Perancis ingin memproduksi tempe, sebagai bagian dari bisnis rumah makan Indonesia yang dikembangkannya. Bahan baku utamanya, kedelai, Pemerintah Indonesia bahkan masih harus mengimpor 70% dari kebutuhan nasionalnya. Jadi ya nggak heran, kalau masih ingat, gejolak harga kedelai dunia (hingga 100%!!) langsung memicu krisis tempe dan tahu di Indonesia, 2007 lalu. Saya? Ya, pusing juga waktu itu! Panganan favorit, yang banyak dianggap murahan, lha kok ternyata tidak murah!

Kemarin, sewaktu saya menghadiri undangan diskusi di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, lagi-lagi bersentuhan dengan isu pangan. Topiknya memang seputar globalisasi dan produksi pangan lokal. Salah satu isu yang diangkat (yang sudah sering saya dengar) adalah dekonstruksi wacana nasi atau beras sebagai makanan pokok bagi Indonesia – sehingga masyarakat yang tidak mengkonsumsi beras dianggap terkena krisis pangan. Di sisi lain, Indonesia sebenarnya punya beraneka jenis pangan selain beras. Dekonstruksi ini hanyalah untuk membuka keran bagi WTO untuk menekan pemerintah Indonesia agar mengimpor beras – dan selanjutnya menimbulkan ketergantungan terhadap beras. Padahal; “Nasi itu bisa bikin mati orang.” Kurang lebih begitu dia menirukan opini anaknya yang kuliah di kedokteran. Intinya, nasi bukan panganan yang sungguh menyehatkan sebenarnya. Meski pendapat pemasalah (atau anaknya) itu terlalu ekstrim bagi saya, saya sepakat bahwa nasi tidak seharusnya dikonsumsi banyak-banyak. Saya sendiri sudah lama mengurangi konsumsi nasi, terutama sejak merasa sistem pencernaan ini agak kurang beres. Sebagai gantinya, saya lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat tinggi, atau buah. Awalnya memang berat, tapi kemudian, tubuh saya terkondisi dengan sendirinya, sehingga porsi kecil nasi pun sudah mendatangkan kekenyangan.

Selain nasi, saya juga mengurangi garam dan gula. Dua bahan pangan yang sedang jadi hot issue belakangan ini. Gula, karena harganya meroket hingga 10 ribu per kilogram. Saya mengurangi gula, begitu menyadari ibu saya pernah terkena gejala diabetes.

Sementara garam?

Saya pernah googling mengenai isu pangan, dan alamak…! Kompas 24 Agustus 2009 menyebutkan bahwa anggaran belanja impor pangan Rp 50 trilyun, atau 5% dari total APBN. Kedelai sudah pastilah termasuk di dalamnya, bersama gandum, daging sapi, susu sapi, gula, dan garam. Nah, ini yang paling bikin saya kaget, bahkan garam pun kita impor! Hingga Rp 900 miliar pula!

Seorang kawan saya, di facebook langsung memprotes informasi yang saya share soal impor garam ini. Ia, yang asal Sulawesi, menyebut Jeneponto, suatu kabupaten di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai penghasil garam beryodium terbesar di Indonesia. Ah, saya juga malah jadi ingat pulau asal usul saya, Madura, yang sedari dulu terkenal sebagai penghasil garam. Jadi apa kabarnya Jeneponto dan Madura, jika pemerintah kita lebih suka mengimpor garam? Ketika pekerjaan yang biasa ditekuni tidak menghasilkan lagi, bisa-bisa jadi pengemislah mereka. Padahal mengemis sudah difatwakan haram di Madura, dan dianggap pelanggaran Perda TIBUM di Jakarta. Persis salah satu judul film Warkop DKI; Maju Kena, Mundur Kena. Sial betul ya, nasib orang kecil…!

Konon, garam produksi lokal kurang bermutu, sehingga impor menjadi jalan keluar. Aneh juga, kenapa biaya sedemikian tidak dipergunakan untuk peningkatan kualitas saja? Lagipula, seberapa banyak sih sebenarnya kita membutuhkan garam? Saya cukup bersyukur bahwa lidah ini tidak tergantung kehadiran garam dalam jumlah banyak. Suami saya sampai membuat rangking di keluarga kami, dan dengan mengesampingkan anak kami, saya menduduki peringkat buncit soal “level keasinan”. Kalau memasak, saya biasanya pesan ke hubby, supaya dia tambahkan garam sendiri ke piringnya, karena saya belum tentu cocok dengan “level keasinan” dia. Itu solusinya, karena dia suka menggerutu; “Mami  kalo masak kurang asin!” Yang kadang kujawab becanda: “Kalo keasinan nanti disangka Mami pengen kawin lagi..”

Begitu pun gula. Kopi favorit saya adalah black coffee. Definitely no added sugar. Kopi sachetan kesukaan hubby sering saya ledek dengan: “kopi rasa sirup” karena saking manisnya. Dengan itulah, gula 1 kg yang saya simpan, malah bisa bertahan sampai berbulan-bulan, saking iritnya.

Jadi, apa hubungannya diet saya dengan impor pangan?

Yang jelas, saya memang mendambakan bahwa apa yang kita butuhkan, sudah ada di negeri sendiri. Bicara soal kebutuhan bukan hanya jenis atau variannya, tapi juga kuantitas serta kualitasnya. Kalau saya diet, itu karena saya mengakui bahwa saya masih membutuhkan jenis pangan tertentu, tapi tidak dalam porsi seperti kebanyakan orang pakai. Memang jadi soal lain, jika definisi kebutuhan itu diciptakan oleh pihak yang berkepentingan. Ibarat iklan, kita akan dibuat percaya bahwa kita membutuhkan fitur-fitur yang ditawarkan, bukannya mengenali betul kebutuhan kita sendiri. Dan, saya percaya, bahwa persoalan impor pangan ini sesungguhnya adalah persoalan membaca kebutuhan mereka yang selama ini justru terabaikan. Jika terus menerus impor, kapan kita bisa fokus pada pembenahan kualitas produksi sendiri, yang akan berkontribusi pada peningkatan daya serap tenaga kerja dan kesejahteraan rakyat?

Ah iya, saya cerita ke hubby soal impor garam. Dan apa katanya? “Ya sudahlah Mi, goreng tempe nggak usah pake garam, atau…nggak usah dimasak sekalian, gimana Mi? Alias mentah! Kan katanya bisa bikin awet muda.”

Lama-lama, saya bisa tersihir juga oleh ‘iklan’ yang dibawa para eks tapol tersebut.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s