“Apa yang kamu nikmati di dunia ini?”
Suatu saat, di suatu tempat, aku tembakkan pertanyaan ke seorang kawan. Kawanku itu, sambil tersenyum simpul, menjawab:
“Ketenangan.”
“Apa yang membuatmu tenang?”
“Jika aku melakukan sesuatu hal yang berarti bagi orang lain.”
“Apakah hal itu sudah terjadi?”
“Hmmm. Belum. Soalnya kita mesti bergantung juga dengan orang lain.”
“Jadi….” Aku mencoba menyimpulkan. “Kamu belum menikmati hidup ini? Ah, kasihan sekali…”
Kawan saya tersenyum mencemooh. Katanya, pertanyaan psikologi selalu begitu – seperti serial yang menyambungkan satu jawaban ke pertanyaan berikut, dan seterusnya. Saya tertawa. Cemoohan yang justru menunjukkan ketakutan akan penyingkapan dirinya sendiri.
Tapi, cemoohan itu tidak mengurangi pentingnya memahami ‘kenikmatan’ itu sendiri. Atau setidaknya, persepsi kita tentang ‘kenikmatan’.
Belakangan ini aku juga mencoba merenung, apa yang membuat aku merasa nikmat. Aku pun membuat daftar. Pertama, melihat Gabriel tersenyum. Lalu, melihat rumah rapi dan bersih. Selanjutnya, menyaksikan hasil-hasil karyaku. Dan seterusnya. Tanpa kusadari, aku sedang mengidentifikasi sumber-sumber kenikmatanku. Yang mengherankan, ada sisi-sisi yang jika dinalar secara logika, seharusnya aku tidak nyaman. Dan secara logis, memang bukan hal yang bagus. Misalnya, bahwa aku tidak lagi bekerja sebagai karyawan tetap. Ada kalanya, aku memang merindukan rutinitas kantoran yang kutekuni belasan tahun lamanya. Dan aku menyadari hal-hal tidak mengenakkan yang menyertai fakta saat ini. Tapi, ajaibnya, setiap kali sumber-sumber (kenikmatan) tadi menyeruak muncul, bayangan tidak nyaman tadi kembali tersamar.
Aku pernah mendengar, entah dari mana, mungkin dari kitab suci – (ah, aku harus banyak mengaji) – bahwa pada hakikatnya manusia dilahirkan di dunia ini dengan tugas masing-masing. Dan ‘kenikmatan’ itulah yang menuntun mereka pada jalur tugasnya. Jika kawan saya, meletakkan kenikmatan pada ketenangan – yang harus dibayarnya dengan berbuat baik, mungkin itu sudah given task yang dia sandang sejak muncul ke dunia. Tentu saja tidak mudah pula mengenali kenikmatan hakiki ini – kenikmatan yang bukan seperti kepuasan sesaat setelah membeli Blackberry misalnya. Atau membeli mobil keluaran terbaru. Atau setelah bercinta dengan orang yang kita sayangi.
Ah, aku jadi ingat pula dengan pertanyaan seorang kawan; “Lebih baik menikah atau melajang ya?”
Lalu aku jawab : “tergantung apa yang kamu cari di dunia ini.”
Tentu jawabannya bukan sekedar – iyalah, saya cari cewek atau cowok paling keren dan sexy, karena begitu kita mendapatkannya, belum tentu menikah menjadi jawabannya. Ada sesuatu yang lebih mendalam. Aku, misalnya. Memiliki dan membesarkan anak, menjadi salah satu tujuan penting di dunia ini. Mempersiapkan suatu mahluk yang semula tidak berdaya menjadi berdaya dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia, merupakan proyek jangka panjang – yang juga bisa berarti perubahan banyak hal bagi saya. Sehingga, aku menjadi paham, mengapa masa-masa keterlibatan dalam setiap prosesnya, juga menjadi sumber kenikmatan bagiku. Mungkin memang ini salah satu jalan yang digariskan. Kalaupun aku harus tidak terlibat dalam beberapa masa itu, bisa jadi karena sumber kenikmatan itu memang ada pada lebih dari satu jalan. Dan semuanya bermuara pada kehidupan yang lebih baik, bukan hanya bagi aku dan anakku, tapi juga orang banyak.
Mulailah pada apa yang membuatmu nyaman, yang bisa kamu nikmati. Dan kamu akan memahami tugasmu di dunia.
Entah siapa yang menemukan rumus tersebut, tapi aku merasa bahwa rumus itulah yang menggerakkanku sekarang ini.
Nah, apa yang membuat kamu menikmati dunia ini?