Apa kaitannya hidup manusia dengan kamera digital? Ternyata kamera digital bukan hanya bagian dari hidupku saat ini, tapi juga menjadi inspirasi berharga.
Hari ini, seorang kawan bertanya: “Aku ditawari Canon seri 1000. Menurutmu, piye?” Berhubung aku cukup awam soal kamera, langsung saja kutanyakan hubby.“Wah, kalau untuk motret produk, mending dia beli yang rada serius, yang tiga digit maksimal,” katanya.
Belakangan ini aku makin menyadari bahwa selama ini aku hidup bersama seorang konsultan kamera. Siapa lagi? Ya, hubby dong! Setidaknya, untuk orang-orang yang gapkam (gagap kamera) seperti aku, advisnya lumayan berguna. Lihat saja sejarah panjang kami memilih kamera. Mulai dari kamera analog Nikon F4 (yang juga kami sebut F Se’, seperti nama kelompok artis Mandarin yang terkenal awal 2000-an). Saat itu juga terkenal Nikon F5, tapi beruntunglah kami tidak beli. Bagian grip (pegangan tangan)nya ternyata tidak tahan panas, dan mudah mengelupas, seperti di alami seorang kawan yang terlanjur membeli. Lalu ketika musim digital melanda, kami tidak buru-buru membeli kamera, meski sudah ada yang menawarkan beberapa jenis kamera. Tunggu saja dulu, kata hubby. Dalam setahun, jenis yang mana yang tidak ada keluhan dari pemakainya, itu yang dibeli.
Okay. Kesabaran, seperti kata Kung Fu Panda, seringkali memang menjadi kunci mengatasi masalah. Dengan kesabaran pula, aku menunggu kamera digital Nikon D100 hubby laku – untuk ditukar tambah dengan Canon Eos 40D. Jenis kamera ini sebenarnya pernah direkomendasikan hubby pula ke salah seorang kenalan yang tahun lalu ingin membeli kamera. (Dan ternyata, dia malah membeli Nikon D40, yang harganya separuhnya -entah karena memang tidak bisa membedakan merek Nikon dan Canon atau karena hal lain.)Alasan hubby, kamera Canon Eos 40D lumayan handal sebagai seri semi professional. Salah satu indikasi sederhana, memory card-nya CF (compact flash) dan bukannya SD (Smart Drive) seperti kamera poket, dan bodynya rigid. Satu alasan penting lain, dengan kualitas sedemikian rupa, harga relatif terjangkau isi dompet.
“Lha, kalau temenmu itu mau bersabar sedikit, mending dia menabung sebentar untuk beli Canon Eos 40D, ketimbang Nikon D 40,” kata hubby dengan nada menyesalkan. Katanya lagi, ketimbang Nikon D 40, mending membeli Nikon D 70 second seperti punya Popon. “Rigid tuh, memorycard-nya juga sudah CF.” katanya. Popon sendiri pernah rasan-rasan ingin menjual kamera itu, namun begitu mengobrol dengan hubby, entah kenapa, dia lantas mengurungkan niatnya. Belum tahu lagi sekarang ini, jangan-jangan dia malah sudah beli Nikon D 300, salah satu keluaran terbaru Nikon. Nikon D 300 itu seperti yang dibeli salah seorang saudaraku, mas De – sebut saja begitu. Belum lama ini, ia bertanya-tanya soal kamera ke hubby. Kameralah yang membuatnya batal membeli mobil VW idamannya. Hubby dikontak untuk bertanya-tanya soal kamera. Bahkan begitu ia membeli Nikon D 300, hubby dikontak lagi – karena ia ditawari pemilik toko kamera pula untuk membeli lensa tertentu. “Sik, mas, ojo tuku dhisik,(Nanti dulu Mas, jangan beli dulu)” kata hubby di ujung selularnya. Begitu situasi tenang, hubby menerangkan. “Sebelum beli lensa, lihat dulu lensa yang kamu punya. Kamu itu sudah punya lensa 80-200 mm ED F/2.8. Artinya, kamu sudah tidak perlu lagi membeli spesifikasi lensa seperti yang ditawarkan pemilik toko tersebut.” Intinya, jangan buru-buru memutuskan untuk membeli sesuatu sebelum kita memahami apa yang kita butuhkan. Ya, biasalah, orang awam tapi banyak duit biasanya jadi sasaran empuk pemilik toko kamera. Setidaknya hubby sudah menyelamatkan sekian juta menggelontor begitu saja dari kantong tanpa dasar yang jelas.
Kemudian, soal pixel. Ngapain sih keblinger dengan pixel gede, memangnya foto itu mau diprint seukuran apa? Begitu selalu kilahnya jika ditanya, kenapa tidak memilih kamera dengan pixel paling besar. Lha, kalau outputnya seukuran bis kota, baru perlu pixel besar. Paling ya 10 Mega Pixel (MP). Itu juga sebabnya ia tidak menyarankan aku membeli Canon Eos 500D dengan 15 MP, yang katanya: “Cuma menang canggih softwarenya, tapi lebih ringkih. Memorycard-nya pun masih SD.” Jadi, kembali hubby menekankan poin penting – kenali kebutuhan sebelum memutuskan membeli sesuatu. Untuk yang isi kantongnya pas-pasan seperti kami, tapi suka memotret outdoor, dengan cuaca yang kadang panas terik tidak menentu, tentu kualitas kamera yang lebih rigid yang dibutuhkan.
Bicara soal jual beli kamera digital, ternyata memiliki kamera digital, tidak lantas bisa dengan merdeka menjepret sana sini tanpa perhitungan. Nilai jual kamera digital, bukan sekedar dihitung dari lamanya, tapi berapa kali digunakan untuk menjepret (shoot count). “Jadi, meskipun memiliki kamera digital, tetaplah berpikir analog – yang memperhitungkan berapa jumlah frame film yang dihabiskan. Dengan demikian kita tidak sembarang bidik, yang berarti membuang-buang shoot count, dan membuang-buang usia processor kamera.” Begitu saran hubby. Shoot count memiliki batasan dan jika itu terlampaui, maka berarti kamera harus ganti processor – atau sekalian beli baru. Makanya kemudian, terjadi pula pergeseran paradigma. Jika dulu, paradigmanya adalah body kamera boleh lama, asal lensa baru (paradigm untuk kamera analog) – maka sekarang, body kamera sebaiknya baru, lensa boleh lama (paradigm untuk kamera digital). Ya, hal itu karena body kamera digital memiliki lebih banyak keterbatasan dibanding lensa. Itulah sebabnya, hingga saat ini kami masih mempertahankan si metal body Nikon F4 yang dibeli tahun 2001 atau delapan tahun lalu. Kata hubby, kamera analog seperti itulah yang long lasting, bahkan mungkin sampai anak kami dewasa sekalipun. Cukup lama pula untuk menyimpan banyak kenangan kebersamaan kami.
Jadi, bukan hanya soal kesabaran, serta kehati-hatian yang kupelajari dari seluk beluk memahami kamera, khususnya kamera digital ini. Memahami kamera digital, membuatku merasa hidup ini pun seperti usia kamera digital – begitu terbatasnya, sehingga kita harus seoptimal mungkin menggunakannya.
Thanks buat hubby untuk inspirasi hari ini.
hehe canggih neh bahasannya, mbak. Hasilnya gmana tuh? rasa2nya kamera sebagus apapun kalo yang menggunakannya (maaf) gak punya sense rasanya sih gak akan berhasil. Jadi pengen liat neh hasil kamera canggih punya mbak.
Halo Indra, sorry baru balas sekarang. Sebenarnya tulisan ini belum membahas soal teknis pemotretan ya. Saya juga masih belajar banyak soal itu. Tapi kalau ingin tahu beberapa hasil jepretan saya, bisa cek di http://www.flickr.com/photos/pyunifa
atau klik http://www.facebook.com/album.php?aid=131648&id=840683843&l=69016d9532
setuju banget…
Halo Budi, thanks sudah mampir..:)
lama gak mampir sini, eh dah dibales komennya. jujur aja, kalo disuruh motret, saya lebih suka motret mbak