Aku menulis ini untuk lelakiku tercinta, yang masih terlelap. Sedikit basah di keningnya, teratur hela napasnya. Serasa panjang waktu menunggunya terjaga, tersenyum, dan menggodaku dengan jemarinya yang lentik.
Tidakkah kamu menyadari, bahwa aku begitu mencintaimu, Cinta? Hanya kamu, lelaki, yang di hadapannya aku tidak punya tembok pembatas. Hanya kamu, lelaki, yang di hadapannya aku dapat bersimbah air mata dengan lepas. Dan pada saat itu, hanya kamu, lelakiku, yang langsung mengulurkan tanganmu mengusap genangan di sudut mataku.
Sudahkah terjaga, lelakiku? Kau siap kembali menggodaku, merangkai tawa bersamaku, memelukku dengan hangat. Aku selalu rindu bau keringatmu, lelakiku. Rindu semua tentangmu.
Untuk lelakiku tercinta, GP – Mami hanya ingin mati di pangkuanmu kelak..
Jaban, end of August 2010