perempuan biasa…

Entries categorized as ‘Aku dan dia’

Kamera digital, hidup digital

Oktober 5, 2009 · 1 Komentar

Apa kaitannya hidup manusia dengan kamera digital? Ternyata kamera digital bukan hanya bagian dari hidupku saat ini, tapi juga menjadi inspirasi berharga.

Hari ini, seorang kawan bertanya: “Aku ditawari Canon seri 1000. Menurutmu, piye?” Berhubung aku cukup awam soal kamera, langsung saja kutanyakan hubby.“Wah, kalau untuk motret produk, mending dia beli yang rada serius, yang tiga digit maksimal,” katanya.

Belakangan ini aku makin menyadari bahwa selama ini aku hidup bersama seorang konsultan kamera. Siapa lagi? Ya, hubby dong! Setidaknya, untuk orang-orang yang gapkam (gagap kamera) seperti aku, advisnya lumayan berguna. Lihat saja sejarah panjang kami memilih kamera. Mulai dari kamera analog Nikon F4 (yang juga kami sebut F Se’, seperti nama kelompok artis Mandarin yang terkenal awal 2000-an). Saat itu juga terkenal Nikon F5, tapi beruntunglah kami tidak beli. Bagian grip (pegangan tangan)nya ternyata tidak tahan panas, dan mudah mengelupas, seperti di alami seorang kawan yang terlanjur membeli. Lalu ketika musim digital melanda, kami tidak buru-buru membeli kamera, meski sudah ada yang menawarkan beberapa jenis kamera. Tunggu saja dulu, kata hubby. Dalam setahun, jenis yang mana yang tidak ada keluhan dari pemakainya, itu yang dibeli.

Okay. Kesabaran, seperti kata Kung Fu Panda, seringkali memang menjadi kunci mengatasi masalah. Dengan kesabaran pula, aku menunggu kamera digital Nikon D100 hubby laku – untuk ditukar tambah dengan Canon Eos 40D. Jenis kamera ini sebenarnya pernah direkomendasikan hubby pula ke salah seorang kenalan yang tahun lalu ingin membeli kamera. (Dan ternyata, dia malah membeli Nikon D40, yang harganya separuhnya -entah karena memang tidak bisa membedakan merek Nikon dan Canon atau karena hal lain.)Alasan hubby, kamera Canon Eos 40D lumayan handal sebagai seri semi professional. Salah satu indikasi sederhana, memory card-nya CF (compact flash) dan bukannya SD (Smart Drive) seperti kamera poket, dan bodynya rigid. Satu alasan penting lain, dengan kualitas sedemikian rupa, harga relatif terjangkau isi dompet.

“Lha, kalau temenmu itu mau bersabar sedikit, mending dia menabung sebentar untuk beli Canon Eos 40D, ketimbang Nikon D 40,” kata hubby dengan nada menyesalkan. Katanya lagi, ketimbang Nikon D 40, mending membeli Nikon D 70 second seperti punya Popon. “Rigid tuh, memorycard-nya juga sudah CF.” katanya. Popon sendiri pernah rasan-rasan ingin menjual kamera itu, namun begitu mengobrol dengan hubby, entah kenapa, dia lantas mengurungkan niatnya. Belum tahu lagi sekarang ini, jangan-jangan dia malah sudah beli Nikon D 300, salah satu keluaran terbaru Nikon. Nikon D 300 itu seperti yang dibeli salah seorang saudaraku, mas De – sebut saja begitu. Belum lama ini, ia bertanya-tanya soal kamera ke hubby. Kameralah yang membuatnya batal membeli mobil VW idamannya. Hubby dikontak untuk bertanya-tanya soal kamera. Bahkan begitu ia membeli Nikon D 300, hubby dikontak lagi – karena ia ditawari pemilik toko kamera pula untuk membeli lensa tertentu. “Sik, mas, ojo tuku dhisik,(Nanti dulu Mas, jangan beli dulu)” kata hubby di ujung selularnya. Begitu situasi tenang, hubby menerangkan. “Sebelum beli lensa, lihat dulu lensa yang kamu punya. Kamu itu sudah punya lensa 80-200 mm ED F/2.8. Artinya, kamu sudah tidak perlu lagi membeli spesifikasi lensa seperti yang ditawarkan pemilik toko tersebut.” Intinya, jangan buru-buru memutuskan untuk membeli sesuatu sebelum kita memahami apa yang kita butuhkan. Ya, biasalah, orang awam tapi banyak duit biasanya jadi sasaran empuk pemilik toko kamera. Setidaknya hubby sudah menyelamatkan sekian juta menggelontor begitu saja dari kantong tanpa dasar yang jelas.

Kemudian, soal pixel. Ngapain sih keblinger dengan pixel gede, memangnya foto itu mau diprint seukuran apa? Begitu selalu kilahnya jika ditanya, kenapa tidak memilih kamera dengan pixel paling besar. Lha, kalau outputnya seukuran bis kota, baru perlu pixel besar. Paling ya 10 Mega Pixel (MP). Itu juga sebabnya ia tidak menyarankan aku membeli Canon Eos 500D dengan 15 MP, yang katanya: “Cuma menang canggih softwarenya, tapi lebih ringkih. Memorycard-nya pun masih SD.” Jadi, kembali hubby menekankan poin penting – kenali kebutuhan sebelum memutuskan membeli sesuatu. Untuk yang isi kantongnya pas-pasan seperti kami, tapi suka memotret outdoor, dengan cuaca yang kadang panas terik tidak menentu, tentu kualitas kamera yang lebih rigid yang dibutuhkan.

Bicara soal jual beli kamera digital, ternyata memiliki kamera digital, tidak lantas bisa dengan merdeka menjepret sana sini tanpa perhitungan. Nilai jual kamera digital, bukan sekedar dihitung dari lamanya, tapi berapa kali digunakan untuk menjepret (shoot count). “Jadi, meskipun memiliki kamera digital, tetaplah berpikir analog – yang memperhitungkan berapa jumlah frame film yang dihabiskan. Dengan demikian kita tidak sembarang bidik, yang berarti membuang-buang shoot count, dan membuang-buang usia processor kamera.” Begitu saran hubby. Shoot count memiliki batasan dan jika itu terlampaui, maka berarti kamera harus ganti processor – atau sekalian beli baru. Makanya kemudian, terjadi pula pergeseran paradigma. Jika dulu, paradigmanya adalah body kamera boleh lama, asal lensa baru (paradigm untuk kamera analog) – maka sekarang, body kamera sebaiknya baru, lensa boleh lama (paradigm untuk kamera digital). Ya, hal itu karena body kamera digital memiliki lebih banyak keterbatasan dibanding lensa. Itulah sebabnya, hingga saat ini kami masih mempertahankan si metal body Nikon F4 yang dibeli tahun 2001 atau delapan tahun lalu. Kata hubby, kamera analog seperti itulah yang long lasting, bahkan mungkin sampai anak kami dewasa sekalipun. Cukup lama pula untuk menyimpan banyak kenangan kebersamaan kami.

Jadi, bukan hanya soal kesabaran, serta kehati-hatian yang kupelajari dari seluk beluk memahami kamera, khususnya kamera digital ini. Memahami kamera digital, membuatku merasa hidup ini pun seperti usia kamera digital – begitu terbatasnya, sehingga kita harus seoptimal mungkin menggunakannya.

Thanks buat hubby untuk inspirasi hari ini.

Kategori: Aku dan dia · Harian · Refleksi

Setelah 14 tahun

Agustus 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kesukaanku ber-facebook ria, ternyata mempertemukan aku dengan seorang kawan lama. Sewaktu dia add, ingatanku langsung kepada mug Jakjazz’95 yang masih aku simpan hingga sekarang. Mug besar, 3 kali ukuran normal, memang jadi kesayanganku. Bayangkan, sejak aku pindah dari kediaman Bude tahun 1995 (means 14 tahun lalu!), dan pindah kos hingga 3 kali, hingga ketika pindah ke rumah keluarga suami aku tahun 2003, lalu pindah ke kontrakan di tahun yang sama, dan terakhir bermukim di rumah kami yang sekarang sejak 2004, mug itu tidak pernah tertinggal. Meski mengepaknya memang agak repot, karena harus aku bungkus dengan kertas bekas berlapis-lapis agar tidak pecah. Dan kini mug itu terpajang manis di lemari makan rumah yang kutempati saat ini di Yogya.

Aku pernah punya macam-macam mug; sebagian dari orang-orang yang aku kasihi. Tapi begitulah, nasibnya berakhir dengan hilang atau pecah begitu saja. Dan mug raksasa – bertulisan bintang-bintang jazz terkemuka, Indonesia maupun manca – ternyata begitu ‘setia’ mengikuti aku. Kondisinya pun baik-baik saja.

Dan aku bersyukur, karena hal itu menjadi pembuka percakapan kami yang lumayan bagus.

Kawanku itu, ternyata sudah sekitar enam tahun tinggal dan bekerja di Inggris, di bidang konstruksi, sesuai latarbelakang dia; teknik sipil. Yang membuat aku terkaget-kaget, ia masih mengingat masa-masa mencari rumahku di Pancoran. Dulu kami kerap ketemu di Gelanggang Mahasiswa. Dia aktif di band mahasiswa, sementara aku Kempo. Interaksi kami tidak banyak, sehingga cukup mengherankan, kami tidak saling melupakan setelah 14 tahun sekalipun.

“Aku akan ke Yogyakarta Agustus, meet up?” Aku membaca message yang masuk di kotak surat facebook aku. Aku mengiyakan. Dan dua minggu lalu kami kemudian ketemu di suatu café di Gejayan, Yogyakarta. Bayangan bahwa pertemuan kami akan canggung, ternyata buyar sama sekali. Entah kenapa, kami langsung cair. Seperti dua orang sahabat lama yang begitu lama tidak bersua.

Selain rambutnya yang mulai banyak memutih, tidak ada yang berubah. Logatnya pun tidak lantas ‘logat keju’ alias kebarat-baratan. Dialek Jogjanya tetap kental. Padahal selama di sana, dia menceritakan bagaimana kehidupannya yang cenderung being isolated, sehingga tidak banyak bergaul dengan Indonesian community. Bekerja, dan bekerja, serta networking. Begitulah. Hidupnya nyaris sempurna untuk ukuran laki-laki di mana pun. Charming, karir mapan. Hanya kurang beruntung dalam hal pernikahan. Ia baru saja bercerai.

Kami bicara banyak hal, tapi salah satu topik menarik kami adalah tentang transportasi. Rupanya dia sedang mengembangkan minatnya terkait transportasi. Kami bicara tentang kaitan transportasi dan budaya. Aku cerita pengalamanku menumpang jeepney, angkutan umum khas Philippine. Aku ceritakan bagaimana penumpang yang duduk jauh dari sopir, tidak perlu bersusah payah menggapai sopir untuk membayar, cukup menitipkan pada penumpang di dekatnya. Intinya adalah, bagaimana transportasi mengembangkan budaya saling percaya antar warganya.

“That’s excellent,” katanya. Ia bilang kemudian, budaya demikian mirip dengan di lift di sana – siapa yang terdekat dengan tombol, dia yang akan membantu menekan tombol. Ada semacam kesepakatan umum yang mengatur perilaku pemakai transportasi. Tapi beralih ke Indonesia, contoh-contoh negatif banyak bertaburan. Mulai dari perilaku pengendara motor yang sembarangan, menerima telpon atau bahkan ber-sms saat menyupir, hingga budaya korupsi yang mengakar. Dan kawanku itu mengakui, sebagai seorang idealis – pilihannya adalah tetap tinggal dan bekerja di Inggris, bukan di Indonesia. “Di Indonesia, Put..”katanya agak emosi. “Mendapatkan proyek harus dengan sogok sana sini. Aku tidak bisa begitu.”

Ada pesimisme di sana, yang aku akui kebenarannya. Bicara soal budaya, merupakan pekerjaan besar yang tidak bisa diubah dalam jangka waktu singkat. Pilihannya tinggal pada kita – terjun ke dalamnya dengan konsekuensi ikut terombang ambing arus budaya tersebut, atau memilih arus lain yang tidak dicemari budaya tersebut. Dan kawanku memilih yang kedua.

Tidak terasa 4 jam sudah kami mengobrol. “Kalau kamu mau menulis soal transportasi, kontak aku ya Put,” pintanya. “Kelihatannya kamu suka menulis. Aku baca blog kamu lho.”

Hmm..aku hanya bisa nyengir. Usulan yang menarik. Semenarik proses kami bertemu setelah belasan tahun, dan bagaimana kami nyaris tidak kehilangan bahan percakapan selama 4 jam. Mulai dari soal cat rambut, – (menarik sekali mengetahui begitu banyak pertimbangannya soal itu, sementara banyak orang begitu saja gonta ganti warna rambut sesuka hati – pasti memilih calon istri kedua jauh lebih ribet lagi! Hehehe) – hingga transportasi. Dan aku bersyukur memilih tempat dengan variasi menu yang tidak melulu pedas. Lidahnya sangat Jawa, alis manis oriented. Begitu bertolak belakang denganku yang doyan pedas. Alhasil kami ngobrol ditemani sepiring nasi goreng seafood dan calamari dengan saus manis, serta ubi manis. Lalu kami berpisah – setelah dengan nada yang kali ini – aku tangkap sedikit canggung – dia mengingatkanku untuk pulang: “Kamu kan punya suami dan anak………….”

Terima kasih untuk pertemuan ini, kawan. Tentu aku berharap pertemuan selanjutnya tidak menunggu belasan tahun lagi.

Dan mungkin, saat itu dia sudah tidak sendiri.

Kategori: Aku dan dia · Harian

Aku dan Perempuan Itu..

Agustus 22, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Kapan kamu melanjutkan kisah “Perempuan itu?” Aku menunggu-nunggu kelanjutannya..”
Seorang kawan mengingatkanku beberapa hari lalu.
Tunggu sajalah, aku bilang. Aku memang tidak bisa menjanjikan kisah “Perempuan Itu” bisa dilanjutkan sewaktu-waktu. Kenapa? Karena kisah itu muncul dan mengalir tanpa bisa aku duga. Sebagaimana aku mengenal “perempuan itu” juga tanpa aku duga.

Selembar ingatanku melayang di beberapa waktu lalu.

Aku bertemu perempuan itu kira-kira dua tahun lalu. Saat itu aku sedang jenuh. Begitu banyak yang kupikirkan, tapi hanya tercekat diam di benak. Aku butuh pelepasan. Dan, muncullah ia.
Awal pertemuan yang biasa, nyaris tanpa kesan. Kesan itu baru muncul ketika kami mulai saling terbuka.Kami punya banyak kesamaan. Sama-sama sudah menikah, dan punya anak. Tapi lambat laun kami saling mengenali sisi kami yang berbeda. Aku dan dia, nyaris tidak pernah sependapat dalam banyak hal. Tapi itulah yang membuat kami dekat satu sama lain. Kami sama-sama tertarik dengan permasalahan sosial, dan lebih dari itu, juga memperdebatkannya. Jika aku beranggapan “solusinya adalah A,” dia akan mengatakan “B”. Begitu seterusnya. Bahkan ketika aku mencoba mengikuti pendapatnya, dia akan mengungkap antitesis pendapatnya sendiri.

Ah, menyenangkan sekali menjadi aktivis, komentarku suatu ketika, sesaat begitu beranda facebook terbentang di layar komputer jinjingku. Semangat sekali mereka menentang neoliberalisme, demi kesejahteraan rakyat banyak. Ingin rasanya turun ke jalan lagi dan melakukan lagi aksi-aksi seperti itu..
Perempuan itu, dengan mulut masih berasap dari rokok putihnya, tergelak kecil.
“Hahaha. Kamu ketularan ABG-ABG itu? Yang benar saja! Mereka cuma mengalami euphoria kiri…pakai kaos bergambar Che Guevara, mengibarkan bendera merah, dan berteriak “anti neolib” untuk suatu kebanggaan semu…!”
Ketularan? Tidak. Bagiku mereka luar biasa berani, memutuskan untuk menentang kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat miskin. Mereka berani memperjuangkan keadilan..!

Aku tidak tahan untuk kemudian berbagi cerita bagaimana dulu – sembilan tahun lalu – aku juga sempat terlibat dalam kerja-kerja menentang golongan penguasa yang telah semena-mena terhadap minoritas – meski tidak intens. Namun aku masih memelihara semangat keadilan itu. Dan semangat itu mewarnai kerja-kerjaku selanjutnya, meski tidak lagi sepenuhnya di jalan. Selalu ada kegelisahan yang membuatku terus bertanya – apakah yang proyek yang kujalankan ini sudah mencerminkan keadilan? Dan pertanyaan berikutnya yang terus menerus menjerat benak dan hatiku selalu sama:
Sejauh mana kita berani menderita untuk hal satu itu…keadilan?

“Hahaha..memangnya berapa lama mereka berani menderita, berpayah-payah, untuk sepotong keadilan?” Damn! Perempuan itu, bagaikan iblis yang lihai menyelusup ke sanubariku, dan menertawakan kegamanganku di situ.

“Ya, begitulah. Memperjuangkan sesuatu itu butuh penderitaan. Dan kamu tahu? Hanya segelintir aktivis kita yang rela menderita. Mereka bilang anti kapitalisme, tapi memilih tinggal di apartemen mewah, minum kopi seharga 20 – 40 ribu pergelas, menyantap pizza, mengadakan pertemuan di hotel berbintang, merokok merek luar. Aktivis? Aku lebih suka menyebut mereka borjuis “berbulu” aktivis,” ia memelesetkan ungkapan “serigala berbulu domba”.

Aku tidak setuju. Lebih banyak yang menjalani hidup biasa-biasa saja, bahkan berbaur dengan masyarakat kebanyakan. Mereka terjun ke pasar-pasar tradisional, berbaur di antara buruh-buruh pabrik, mengecap keringat di antara karya-karya propaganda yang mereka ciptakan.
“Oya? Dan menurutmu, sampai kapan mereka akan bertahan?”
Aku terdiam. Cerita-cerita tentang sebagian aktivis – yang semula hidup lusuh, dekil dan bergelimang keringat karena banyak menghabiskan waktu demi aksi di jalan-jalan dan kini hidup bak flamboyant, necis wangi dan “mboyis (jawa: stylish)” – berkelebat di benakku. Bukan karena demokrasi yang dicita-citakan sudah tercapai, apalagi revolusi – atau apapun itu. Bukan. Mereka memang beralih haluan. Tapi, toh tidak semua begitu?
“Tidak semua begitu, karena tidak semua berkesempatan untuk begitu,” perempuan itu terkekeh geli melihat aku diam bengong bagai gadis udik menonton gemerlap kota.
Ah, kau dan aku memang tidak pernah sepaham, aku menolak mengalah begitu saja. Mungkin saat ini aku tidak bisa meyakinkanmu, tapi percayalah, kata-katamu tidak menggoyahkanku begitu saja.


“Saat ini, aku memang tidak menggoyahkanmu begitu saja…”Perempuan itu menatapku lekat-lekat. “But, I’m very sure that you won’t forget every single word I said. Tidakkah kamu menyadari? Kamu mudah gelisah. Dan ketidaksepahaman ini akan terus menggelisahkanmu. Kegelisahanmulah yang membawamu padaku…”
Perempuan itu menghisap rokoknya, dalam sekali.
“Bagaimana keluargamu? Suamimu? Anakmu?” tiba-tiba ia bertanya.
Baik, jawabku singkat dan tegas. Aku sedang menikmati menjadi ibu dan istri seutuhnya. Anakku sedang mulai bersekolah, jadi kuputuskan lebih banyak di rumah, menjalani peranku sebagai ibu dan partner rumah tangga bagi suamiku. I think my life is almost perfect.
“Yaya…kalau kamu jadi aktivis, kamu pasti akan tinggalkan sebagian kenyamanan itu,” katanya. “Kamu akan lebih banyak mementingkan publik. Pertanyaanku, apakah kamu bahagia dengan pilihanmu?”
Tentu aku bahagia. Sialan. Pertanyaan macam apa pula ini?
“Karena kamu punya banyak kegelisahan, dan aku yakin kamu merasa kegelisahan itu tidak bisa sepenuhnya tertumpahkan di wilayah domestik.”
Tidak juga. Aku tidak ingin jauh dari keluargaku, itu inti kebahagiaan yang kucari.
“Aku juga hidup dari kegelisahan. Dan, sialnya, aku bisa katakan bahwa – kegelisahan itu juga menjadi dasar dari petualanganku. Kegelisahan itulah yang membuatku mengenal dekat beberapa lelaki, bukan hanya cara berpikirnya, tapi juga…..” ia tertawa kecil. “…….permainannya di tempat tidur.”
Hmm! Wajahku tibatiba merona merah. Perempuan sialan.
Kamu maniak seks ya? Aku tidak bisa menahan sinisku, yang sebenarnya – untuk menutupi rasa jengah.
“Ah, bukan itu, kawan. Aku cuma menjadi – apa yang disebut – Marxist Freudian. Kamu tau itu? Menurut aliran ini, dorongan seks yang senantiasa dapat dilampiaskan, akan mendukung terjadinya revolusi. Dengan kata lain, revolusi tidak dapat terjadi dengan adanya pengekangan dorongan-dorongan seksual.”
Dan ia tergelak menertawakan ekspresiku yang mungkin jadi lucu di matanya.
Hah. Baru kali ini aku mendengar pendekatan psikoanalisis menjadi amunisi sebuah perjuangan masyarakat kelas. Aku sering mendengar Marxist Lenin, Marxist Engel, dan seterusnya. Tapi Marxist Freudian? Jika benar terjadi perilaku promiskuitas antara para aktivis, aku rasa mereka juga sedang ‘mengamalkan’ aliran satu itu. Edan. Mendengar ungkapan bahwa : ‘seks tidak lebih dari minuman – yang kita minum di saat kita haus’ saja sudah membuatku muak setengah mati. Kini malah aku mendengar sendiri ideologi yang sangat mungkin ikut bertanggungjawab atas lahirnya gagasan “seks sebagai minuman” itu.
Begitulah hubunganku dengan perempuan itu. Ingin benar, aku tambahkan “sinting” sebagai nama tengahnya. Perempuan sinting itu. Tapi menurutku kurang pas juga. Ada kalanya, kuakui, dia benar. Mungkin kenyataan yang dikemukakannyalah yang sinting.
Faktanya, dunia memang tidak hitam putih, tidak sesederhana sebidang kertas bertulisan kata-kata. Perempuan itu, suka atau tidak, membantuku melihat satu hal dari banyak sisi. Kadang tidak selalu bertentangan. Seperti, ketika kami menyikapi fenomena #Indonesiaunite. Respon masyarakat yang menolak terorisme ini tidak membuatku tergugah. Mengapa?
Jika mereka ingin Indonesia damai, gugatku sebal; mereka harus menyadari soal ketidakadilan antar masyarakat kelas. Dan itu dampaknya lebih besar daripada pengeboman hotel taraf internasional.
Perempuan itu terpingkal hingga menetes air matanya. “Tau kenapa namanya Indonesiaunite? Aku rasa itu bentuk pelampiasan kekecewaan mereka atas batalnya kedatangan Manchester United ke Indonesia. No Manchester United, Indonesia United sajalah.” Dan kini ganti aku yang tergelak.
“Tapi, bagaimanapun, aku akui mereka berhasil menjaring dukungan luas. Gagasannya sederhana dengan momentum yang pas. Bukan hanya mahasiswa, ibu-ibu rumahtangga juga merasa bisa ikut terlibat. Bersatu, be united! Bukan be underdog! Atau un – un – lain!”
Tapi Indonesia bersatu untuk siapa? Slogan itu lebih terdengar seperti indoktrinasi penguasa untuk meredam isu ketidakadilan yang lebih substansial. Hmm, gemasku belum terpuaskan.

“Ah, kamu terlalu naïf kalau menganggap slogan itu gambaran situasi saat ini. Buatku, slogan itu bersifat visioner. Gambaran masa depan Indonesia dengan masyarakat tanpa kelas.” Dan ia lagi-lagi terkekeh. “Meskipun aku tetap yakin pemicu slogan itu kekecewaan melihat pemain Manchester United.”

Begitulah, kami berdebat, dan kadang saling menertawakan. Semakin aku membenci pemikiran-pemikirannya, makin aku membutuhkannya. Semakin kuanggap gila, makin dalam aku ingin menyelaminya.
Dan aku yakin ia pun begitu. Kami saling membutuhkan, lebih dari yang kami bayangkan. Tapi, kehadirannya begitu sulit aku duga. Kadang aku ingin melupakannya, tapi ada saja yang membuatku ingat. Terakhir, saat aku mengetahui kutipan kata-katanya dijadikan status salah satu kawanku di jejaring sosial facebook.

Saat itulah, tiba-tiba aku seperti tersiksa rindu.
Tunggu sajalah, kataku saat kawanku menanyakan kelanjutan kisah perempuan itu. Rupanya ia menikmatinya seperti sebuah game.
Dan inilah uniknya ‘game’ ini.
Bukan saja kapan dilanjutkan, bahkan aku tidak tahu kapan serta bagaimana menghentikannya.

Kategori: Aku dan dia · Refleksi

Perempuan itu..(4)

Mei 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perempuan itu sudah duduk di kursinya, saat aku datang. Haha, tumben dia mendahuluiku.  Nafasku agak tersengal ketika menarik kursi dan menghempaskan pantatku di atasnya.

“Maaf…..” Aku mencoba tersenyum. Perempuan itu tak membalasku. Dia hanya diam. Wajahnya agak memerah.

Hei…ada apa?

“Aku minta tolong sesuatu, bisa?”  Perempuan itu tampak begitu bertekad bulat. “Diamlah sejenak, beberapa detik saja.”

Tak sempat aku menarik napas, aku melihat perempuan itu mengangkat cangkir kopinya ke atas kepalaku. Aku terdiam kaku, badanku beku bagai kena sihir. Dengan perlahan, perempuan itu mengayunkan cangkirnya, dan hanya sekian centi dari rambutku, menumpahkan isi kopi itu melewati pundakku.

Mulutku ternganga bagai baru melihat ilusi kelas tinggi. Kamu…..!!

“Hahahahahaaha…” Perempuan itu tertawa lepas. Dasar perempuan sinting. Aku dapat mencium aroma kopi yang sedikit menumpahi pundakku, dan mungkin juga rambutku.

“Kamu tahu…? Aku baru saja membayangkan kamu sebagai orang itu…..”

Hah. Orang yang mana? Kamu kemarin bercerita tentang hasratmu yang muncul kembali, ketika ia kembali menyapamu. Kini kamu ingin menumpahkan secangkir kopi panas di rambutnya?

“Bukan orang yang kemarin menyapaku..” Perempuan itu mendengus. “Dengan dia, hubungan kami tetap baik. Kami tetap berteman baik, meskipun tidak seperti kebanyakan teman. Hahaha. Ini, tentang orang yang kuperkenalkan ke kamu lewat ceritaku yang pertama..”

Owh. Aku sejenak diam mengingat-ingat. Kunyalakan laptop, dan sambil menunggu, aku melayangkan pikiran pada suatu cerita yang menurutku aneh, dan agak gila.

Oooh…yang itu….kenapa dia? Kalian sudah berbaikan? Eh…salah ya..hehehe.. Aku terkekeh sumbang. Perempuan itu tersenyum, menyeringai tepatnya.

“Ya, ‘berbaikan’. Dan ‘salam’ yang ingin kusampaikan kepadanya adalah, menyiramnya dengan kopi seperti tadi.”

Hei.. ada apa lagi? Kupikir kamu sudah melupakan kemarahanmu karena soal proyek kalian dulu itu.

“Sebenarnya, iya. Soal proyek itu, meskipun sampai detik ini dia tidak punya nyali untuk menjelaskannya kepadaku seperti komitmen awal kami sebagai tim, tapi aku mulai memaafkannya. Memaafkan, meski tidak melupakan.”

Ah, syukurlah…. Aku tidak menyembunyikan kelegaanku. Moccachino yang tiba di mejaku langsung kuhirup aromanya. Senyumku merebak di bibir cangkirnya.

“Tapi memang, memaafkan pun ada ujiannya. Aku mendengar bahwa, dia pernah bersumpah untuk tidak menghubungiku, demi kelancaran fasilitas dari pacarnya.”

Oya? Benarkah? Lagi-lagi, mulutku ternganga.

“Aku belum konfirmasikan ke dia, tapi aku yakin itu benar. Aku pun berpikir demikian, dulu itu. Tapi aku tidak menyangka akan mendengar pembenarannya, meski bukan dari dia langsung. Sejak kami ribut-ribut soal itu, dan dia memilih berlindung di balik ‘ketiak’ pacarnya, aku sudah menganggap dia tidak lebih dari pengecut berbaju kiri.  Ya, ironis sekali, salah satu penggerak kegiatan kiri yang dianggap berani itu tidak lebih dari seorang pengecut. A real coward….!”

Eh, sebentar..sebentar…

Aku menghirup moccachinoku, mengecek layar komputerku, dan menatap matanya. Wajah perempuan itu memerah. Aku bisa merasakan hawa kemarahan dan kebencian yang kuat. Tapi kenapa? Kenapa kamu harus marah dengan adanya sumpah itu?

“Aku pikir, kalau dia ingin meninggalkanku, tinggalkan saja, tidak perlu bersumpah. Buat apa bersumpah? Ingin menegaskan kepada pacarnya dan teman-teman pacarnya itu bahwa dia setia? Bahwa dia laki-laki baik-baik? Bahwa dia tidak ada cela, sementara akulah sipenganggu? Akulah yang merusak hubungan perkawanannya dengan seseorang, dan kemudian menjadi ancaman bagi hubungannya dengan pacarnya, yang memodali dia selama ini?”

Perempuan itu mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Lalu tiba-tiba meludah ke tanah. Huh! Aku sempat kaget. Kupikir dia akan bereksperimen dengan meludahiku juga. Ampun deh…

“Pengecut berbaju kiri. Aku rasa itu julukan paling tepat buat dia saat ini dan seterusnya.”

Hmmm. Sebentar, perempuan….boleh aku bicara?

Perempuan itu diam. Tidak menolak atau mengiyakan.

Aku rasa dalam diri semua orang yang paling pemberani sekalipun selalu ada sikap pengecut……..

Perempuan itu menatapku tajam, seperti ingin mengiris-irisku.

Ya. Begitulah. Sikap ‘pengecut’ yang sebenarnya untuk melindungimu. Dia takut untuk mengakui secara terbuka bahwa dia mencintaimu, karena itu akan melukai orang lain, dan pada akhirnya, mengganggu kerja-kerjanya selama ini. Dia harus memilih. Dan dia memilih, apa yang menurutnya paling berpeluang untuk melancarkan kerja-kerjanya.

“I’m not surprised.” Perempuan itu tersenyum getir.

Mungkin laki-laki itu hanya tidak kuasa untuk terlalu keras padamu. Dia ingin ‘menyingkirkan’mu, karena dia tidak ingin kamu terus menerus merasa tidak nyaman berada di lingkungannya. Di matamu dia tampak seperti pengecut, tapi mungkin yang terjadi sesungguhnya adalah, dia sedang mengorbankan citranya di matamu, agar kamu membencinya dan dengan ‘senang hati’ menjauh.

“Hahaha. Menggelikan.”

Aku membuang pandanganku, seolah tak acuh.  Dan kamu sendiri… selama ini bersikap pengecut juga, bukan?

Aku bisa merasakan perempuan itu kini menatapku dengan tatapan membakar.

“Maksud kamu…………..”

Ya. Kamu tidak berani bersikap tegas dalam menghadapi masalahmu dengan suamimu, bukan? Kamu takut jika harus berpisah, dan meninggalkan kenyamanan materi selama ini dengannnya bukan? Kamu terlalu pengecut untuk secara terbuka mengatakan kepada suamimu; “Yes, we have a serious problem!” dan mengajukan beberapa opsi, di antaranya berpisah, bukan? Ya, kamu pengecut! Dan di antara semua alasan itu, kamu paling takut berpisah dengan anakmu bukan?

Perempuan itu diam, dengan bibir bergetar.

Sekonyong-konyong ia bangkit. Aku agak terlambat mengelak. Tangannya sudah merebut cangkir moccachinoku yang tinggal separuh, dan melemparkannya ke arah mukaku. Aku berusaha menepisnya, tapi terlambat. Sebagian wajahku terciprat sudah. Sebagian lain membasahi blus putihku. Cangkir itu sendiri terhempas ke tembok, dan pecah berkeping, menyobek keheningan di café sore itu.

Seorang petugas café menghampiriku, dengan tatapan takut dan cemas. Sementara ia membereskan semua bekas kericuhan, aku menatap titik di mana perempuan itu semula berada.

Kosong.

Kategori: Aku dan dia · Uncategorized

Seharusnya..

April 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kadang aku bingung sendiri. Beberapa kali aku berada pada situasi di mana seharusnya aku panik, tapi aku tetap dingin. Mungkin bukan karena ketenangan sejati. Mungkin aku hanya mencoba mengabaikan ketakutanku.

Aku takut merasa takut.

Seperti saat ini.

Kategori: Aku dan dia · Harian · Refleksi

Perempuan itu…(3)

Maret 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Beberapa bulan ini aku mulai merindukan perempuan itu. Sosoknya lenyap seperti ditelan bumi. Awalnya kupikir aku akan tidak peduli, tapi ternyata aku keliru. Seiring kebiasaanku membaca ulang catatan di blog, sosoknya kembali menghunjam benak. Ke mana dia ya?

“Apa kabar..? Aku datang!”

Suara yang jarang kudengar, tapi sulit kulupa. Perempuan itu datang lagi. Senyumnya datar, dengan mata seolah tak acuh. Sigap dia meraih kursi di dekatnya, dan duduk persis di hadapanku yang sedang menghadapi laptop.

“Kamu ke mana saja?” Aku tidak kuasa menahan ingin tahuku.

Perempuan itu tersenyum lebar. “Aku tidak ke mana-mana. Aku selalu ada di sekitarmu, hanya kamu tidak menyadarinya. Hahaha!” Sialan, aku menggerutu diam-diam. Kuamati perempuan itu dalam-dalam. Ia tidak banyak berubah, air mukanya tetap sulit ditebak. Kuberanikan diri untuk menebak.

“Kamu tampak bahagia. Kamu jatuh cinta lagi?”

Perempuan itu terdiam, sesaat aku menangkap dia agak terkejut dengan tebakanku.

“Apakah aku tampak seperti jatuh cinta?” Dia kini malah menggodaku. Aku tersipu. “Entah,” sejenak aku kehabisan kata-kata. “Tapi kuharap begitu. Jatuh cinta itu penting. Kalau perlu setiap hari kita jatuh cinta. Hehehe.”

Perempuan itu tergelak. Begitu spontan, seperti ada beban yang ikut menguap bersama derai tawanya.

“Ya, aku rasa aku jatuh cinta lagi. Dengan suamiku, dan terutama, anakku. Aku jatuh cinta setiap kali melihatnya. Aku jatuh cinta setiap kali menatap matanya yang indah. Bibirnya membuatku gemas. Tawanya membuat hatiku ringan melayang..”

Yaya…betapa menyenangkan. Aku bisa membayangkan sukacita itu. Dan tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja.

“Jadi…kamu sudah tidak lagi menjalin hubungan dengan siapapun?”

Perempuan itu menatapku, beberapa detik hanya hening di antara kami.

“Itu yang aku sulit mengerti….,”

Aku mengerutkan kening. Perempuan itu tampaknya terlahir untuk menjadi pribadi yang complicated! Setiap kali kedatangannya, selalu dengan persoalan yang tidak biasa. Dan kali ini, ia bahkan tidak memahami apakah ia sedang menjalin hubungan “ekstra” seperti dulu atau tidak. Atau ia memang sudah lama tidak membedakannya? Ah, gila kali!

“Aku sedang menikmati hidupku yang sekarang. Bersama orang-orang yang kucintai, memanjakan mereka, dan kembali berinteraksi dengan lingkungan yang pernah kutinggalkan. Tapi….”

Nah, nah, apa lagi?

“Setiap kali dia muncul dan menyapaku, anganku kembali pada masa-masa itu, dan begitu kuat..”

Aduh. Kenapa pula harus mudah tergoda? Be strong! Apakah memang kamu tipe orang yang tidak betah berada di comfort zone dalam suatu hubungan?

“Bisa jadi begitu. Seorang kawan pernah mengatakan, bahwa aku cenderung menyukai relasi yang penuh gejolak emosi. Aku mudah bosan dengan relasi yang tenang-tenang saja. Aku cuma tertawa waktu itu. Tapi, kurasa ia benar. Ada benarnya.”

Berarti tidak seluruhnya benar, begitu? Bagian mana yang benar?

“Aku memang menikmati relasi yang penuh tantangan. Tapi aku juga bukan pembosan. Pada satu titik, aku juga butuh kepastian dan rasa aman, bahwa semua akan baik-baik saja, meski tanpa gejolak emosi.”

Perempuan itu menghela napas. Aku baru menyadari bahwa dia tidak merokok sebatangpun kali ini.

“Mungkin aku bisa melakukan hal ini juga karena aku yakin aku selalu bisa menguasai diriku. Aku tidak akan terlalu jauh jatuh dalam pelukannya. Meskipun dia bersama perempuan lain atau pasangannya, aku tidak kuatir. Aku menempatkan diriku dalam hubungan nyaris tanpa pamrih. Aku justru merasa tenang karena dia tidak perlu terlalu memikirkanku, dan begitu juga aku. Aku tidak perlu terus berada di sisinya.”

Pusing. Ternyata perempuan itu belum berubah di sisi yang satu ini! Tidakkah kamu memahami makna kesetiaan?

Perempuan itu tersenyum sinis. “Setia? Kesetiaan macam apa yang ada di dunia ini, selain laut dengan garamnya, atau langit dengan bintangnya? Daun pun akan jatuh dari tangkainya, anak akan berpisah dengan orangtua yang melahirkannya, semua akan pergi. Tidak ada kesetiaan di dunia ini.”

Lalu, apakah kamu akan menemui kembali laki-laki itu, sekedar untuk melepas hasrat atau entah apa itu?

“Aku belum bisa memutuskan….” Perempuan itu menerawang. “Kami punya masa-masa yang menyenangkan, dan sulit dilupakan, meskipun singkat. Aku menikmati dia mencium bibirku, meremas jemariku dan berbisik “I miss you!” di telingaku, merangkul dan mengusap punggungku, dan….lain sebagainya. Di sisi lain, aku yakin aku bisa mengalami hal itu dengannya, karena aku punya pasangan yang membuatku tidak akan jatuh sepenuhnya pada romantika kami. Dia hangat dan begitu menyenangkan, tapi aku tidak bisa membayangkan akan terus bersamanya.”

Ah, buat apa sih kamu mempertaruhkan kehidupan kamu yang bahagia saat ini, hanya untuk kemesraan semu seperti itu?

Perempuan itu kini terdiam…seperti merenung. “Kamu tidak tahu semuanya…something happened. Tapi aku belum bisa ceritakan saat ini. Mungkin tidak akan…”

Maksudmu, kamu hanya melakukan ini untuk pelarian dari masalahmu?

“Awalnya tidak begitu..” Perempuan itu tampak susah payah menyusun kata-kata. Kini ia gelisah. Mungkin menyadari kata-kataku benar. Atau, ada benarnya.

Dengar, aku mulai tidak sabar. Aku ingin kamu lebih jelas melihat arah hidupmu.Jangan hanya mengikuti emosi sesaat saja. Aku tahu kamu pernah terluka. Aku tahu, meski tidak semua kamu ungkapkan. Aku bisa merasakannya. Aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi, dan lagi. Paham?

Perempuan itu kini menatapku dalam-dalam, seperti berterimakasih. “Aku tahu kamu akan selalu menjagaku. Itu sebabnya aku selalu datang padamu pada saatnya.”

Yayaya. Dan aku mulai pusing dengan segala polemik yang kamu hadapi. Cinta, nafsu, atau apalah. Awalnya kamu selalu yakin bisa menjaga perasaan dan emosimu. Tapi pada akhirnya? Kamu benar-benar jatuh cinta! Dan saat itulah segala persoalanmu mulai berdatangan!

Perempuan itu tergelak, lagi. “Bukankah kamu baru saja mengatakan, “jatuh cinta itu penting. Kalau perlu setiap hari kita jatuh cinta.” Begitu kan? Hahahahaha….”

Sialan. Dasar perempuan psikopat, pintar betul dia melempar balik kata-kataku barusan.

“Aku pergi….” Perempuan itu beranjak. “Selalu senang menumpahkan isi hati denganmu. Satu-satunya orang yang kupercaya di dunia ini.”

Ia membungkuk dan berbisik di telingaku. “Percayalah, aku bisa menjaga diri. Mungkin, ada banyak orang yang memiliki sisi lain yang tidak ada orang lain tahu. Termasuk kamu.”

Ups! Enak saja! Aku menatap sewot, tapi perempuan itu segera berlalu. Aku begitu jengkel, dan jemariku mulai bergerak menekan huruf-huruf namanya. Tapi, sekonyong-konyong, peluh dingin mengalir di dahiku. Jemariku bagai lumpuh. Aku mendengus. Damn.

Ada sisi lain diriku yang menolak menyebut namanya.


Kategori: Aku dan dia

Tentang 5 Juli 2008

Januari 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

…………………………

satu hari dalam masaku yang terlewat, yang begitu menentukan apa yang terjadi saat ini dan esok

yang aku syukuri dengan air mata pedih

dan aku sesali dengan senyum bahagia

………………………..

(untuk orang-orang yang kukasihi,  saat ini, kemarin, dan esok)

Kategori: Aku dan dia

Jejak perjalanan bernama “Ulang Tahun”

Januari 5, 2009 · 1 Komentar

Pagi-pagi, sesaat setelah weker berbunyi. Jariku menekan sebuah nomer.

“Ayah “Gugut”…”

“Apa, Mami “Gugut”….”

“Selamat ulang tahun…” dan sederet percakapan yang..sorry, terlalu pribadi untuk ditulis. Hihi. Oya, “Gugut” adalah sebutan baru dari anak kami, entah apa dasarnya. Mungkin dia menyebutnya karena enak di lidah, atau lucu di telinga. Tidak perlu dasar kuatlah. Aku dan suamiku juga tidak paham arti atau maksudnya. Biar jadi misteri dunianya saja.

Enam tahun sudah kami berumahtangga, dan masih begitu banyak misteri. Aku pernah membaca di sebuah media online, bahwa begitu banyak hal tak terduga yang ditemukan oleh pasangan yang menikah. Memang banyak….! Salah satunya, ternyata D, suamiku itu, begitu telaten merawat anak kami.

Perjalanan pernikahan kami memang bagai laut yang tidak pernah benar-benar tenang. Salah satu gejolak ombak itu bahkan menghempaskan aku ke Jakarta. Meskipun, aku tahu, aku tidak akan selamanya di Jakarta. Tidak mungkin aku berlama-lama meninggalkan suamiku, dan Gabriel.

Gabriel, pria kecilku, jadi bagian dalam rekam jejak pernikahan kami. Aku ingat jelas ego kuatku yang memaksa pergi dari rumah, sementara dia menangis melarangku. Saat itu dia baru saja menginjakkan kaki di Jakarta, harus banyak menyesuaikan diri, dan aku begitu tidak tahu diri, hanya untuk urusan yang tidak terkait dengannya. Gabriel sengaja kubawa, untuk mengikuti egoku. Dan kusia-siakan pula demi egoku yang lain.

Kemarahanku yang terpendam adalah kawan baikku saat itu. Dan ego menjadi tamannya. Kadang aku juga tidak memahami sumber kemarahanku. Apakah pernikahan yang tidak seperti bayanganku, atau kemampuanku sendiri yang tidak seperti kubayangkan. Yang jelas, egoku memupuk kemarahan itu bagai bunga-bunga mekar nan terawat.

Aku patut bersyukur, bahwa selama itu, Gabriel tetap nyaman dalam pelukan ayahnya. Selama aku diam-diam menyimpan kemarahan, Gabriel nyaris tak terusik. Dan itulah hal yang tak terduga. D begitu menikmati mengurusi Gabriel. Bahkan, semua begitu sinergis. Belanja, memasak, bercanda, berkebun, membersihkan rumah, menyeterika baju, mencuci baju, semua bareng.

Selama 38 tahun menghirup udara, aku bisa merasakan D begitu menikmati masa-masa udara itu dihirup bersamaku dan Gabriel di sisinya. Mungkin dulu dia begitu aktif dengan berbagai aktivitas, gerakan, berdemo, bermusik, berganti-ganti pacar, dan lain sebagainya. Tapi aku bisa melihat semua itu kini terbenam di balik kesibukannya memasak sup daging, atau telur rebus kesukaan Gabriel.

Selama aku berkutat dengan kemarahanku yang tak terucap, D dan Gabriel menjadi begitu sinergis. Tak terpisahkan. Merawat, peduli, dan fokus. Tiga hal itu tampaknya sudah menjadi senjata yang mematahkan kemarahanku.

“Kelapa, pundak lutut sapi, lutut sapi…”

Lagu plesetan dari “Kepala, pundak lutut kaki….” yang populer di kalangan anak-anak itu terus terngiang di telinga. Gabriel begitu ceria, meski merindukanku. Aku tahu dia rindu. Tapi dia berjuang memenangi kemarahannya padaku. Ya, aku tahu dia marah, tapi rindu. Dia suka mendaratkan kaki kecilnya ke tubuhku, jika tidak suka sesuatu. Tapi suara kerasnya langsung berubah jadi tangis memohon saat aku beranjak pergi.

Dan kini aku yang harus memenangi kemarahanku sendiri. Tidak dengan mencoret rekam jejak selama 6 tahun ini. Aku malah harus membingkainya, dan melengkapinya dengan catatan kecil:

“Aku tiba di titik ke-6, tapi kuharap bukan titik sesungguhnya. Aku menunggu Ulang Tahun di titik berikutnya.”

Kategori: Aku dan dia · Harian

Kepergian

Desember 13, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lelaki itu, yang mengisi sisi hidupku dengan cintanya; yang cintanya pula membuat ia melepas putra terkasihnya untuk memilih hidup denganku; yang cintanya pula merelakan cucu lelakinya menjalani prinsip yang berbeda dengannya; kini pergi.

Orang bilang, kematian bagaikan maling. Datang begitu saja, di waktu yang tidak terduga, mengambil apa yang kita pikir milik kita, termasuk jiwa kita. Bagiku, ia hanya pergi – kematian hanya mencuri jasadnya. Tidak jiwanya, tidak pula cinta kami terhadapnya.

(untuk Papah; ayahanda suamiku, yang hari ini menghadap penciptanya).

Kategori: Aku dan dia · Harian

Lelaki pemberani itu Bapakku

Desember 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini, 18 tahun lalu. Aku sedang berdiri termangu ketika beberapa kerabat dan tetangga menghampiriku. “Mbak, yang sabar ya, Bapak sudah nggak ada.” Aku ingat, aku sempat menangis sebentar. Tapi airmataku segera kering, seiring kesibukan yang melarutkanku. Dan rumah di sudut jalan itu segera ramai. Ratusan jiwa mengantar kepergian Bapak (29 Januari 1933 - 12 Desember 1990) menuju alam barunya.

Aku tidak sempat mengenal Bapak secara mendalam. Yang kutahu, Bapak bukan figur yang banyak bicara tapi berani. Bapakku pegawai negeri, dan sebagaimana semua pegawai negeri di era Soeharto, diwajibkan memilih hanya satu partai politik tertentu. Aku ingat, Bapak membuat geger TPS di kantor ketika dengan berani memutuskan memilih di TPS lain. Ya, waktu itu, sudah rahasia umum bahwa kartu pemilih di sana sudah ditandai, sehingga akan ketahuan siapa yang memilih selain partai yang satu itu. Bapakku, yang memang memilih parpol lain, memilih untuk mencoblos di tempat lain yang lebih terjamin rahasianya (padahal malah membuat semua orang yakin bahwa Bapakku itu ‘berbeda”..hahaha..)

Bapakku pekerja keras, dan konon, rata-rata yang berzodiak Aquarius begitu. Dan ia seorang yang terbuka. Seorang kakakku bercerita, ia pernah melihat Bapak lembur bermalam-malam, mengerjakan suatu tugas kantor yang memang menjadi spesifikasinya; standarisasi infrastruktur listrik. Sayangnya, kerja keras Bapak sia-sia; direktur memilih hasil dari konsultan asing. Apa yang terjadi kemudian? Di depan dewan direksi, Bapak mengkritik direktur habis-habisan dengan suara lantang menggelegar. Kata seorang mantan sejawat Bapak, semua orang di ruangan itu sampai tertunduk gemetar. Termasuk sang direktur tersebut. Begitulah Bapak. Mungkin dia tidak sepenuhnya benar, tapi Bapak toh memilih menyuarakan pikirannya secara terbuka. Tidak “mengomel di belakang”, apalagi terhadap direktur – seperti kebanyakan orang lakukan. Setelah kejadian itu, Bapak mengajukan pensiun dini.

Melihat sikap keras dan terbuka Bapak, mungkin orang akan berpikir bahwa Bapak minim pengalaman organisasi. Faktanya, Bapakku semasa kuliah di Bandung aktif di sebuah organisasi mahasiswa berbasis Islam. Bapak juga rajin mengundang kawan-kawannya berdiskusi di rumah. Urusan diskusi dan debat, Bapakku memang selalu dahaga. Aku ingat, Bapak selalu mengajak kakakku yang tertua untuk mendiskusikan buku yang baru dibacanya. Sayangnya aku masih terlalu kecil untuk menyimak. Karena selalu mengutamakan diskusi dan keterbukaan, meskipun kami dibesarkan secara Islam, Bapak juga memperkenalkan nilai pluralisme dengan sederhana. 

Aku dari dulu menikmati nuansa Natal. Buatku, semua yang terkait Natal, selalu menyentuh. Lagu-lagu Natal, pohon Natal, selalu membuatku terkesan. Suatu hari, aku menyanyikan lagu Halleluya. Bapakku, yang mendengar tidak sengaja, hanya melongok ke kamarku sambil senyum-senyum; “Kok kamu bisa hapal lagu itu dari mana?” Aku sempat terdiam; sedikit takut. Tapi Bapak, tidak sedikitpun tampak marah atau keberatan. Begitu juga ketika aku banyak menggambar pohon Natal, dan membuat puisi-puisi Natal. Bahkan sewaktu aku menggambar (aku sudah menggambar sejak usia 4 tahun) pemukiman dengan bangunan gereja di tengah-tengahnya, Bapakku, yang dikenal sebagai pemuka agama yang disegani di lingkungan kami, hanya senyum dan mengusulkan: “Coba kamu tambahkan gambar masjid di mana saja.” Aku masih SD waktu itu, dan kalau mau Bapak bisa memintaku mengganti gambar sesuai keinginannya, but he didn’t do that.

Tentu saja Bapakku tidak sempurna. Aku tidak akan lupa bagaimana Bapak suatu ketika menampar dan menendang dua orang kakakku yang ketahuan mengambil uang belanja tanpa seijin ibuku. Bapak juga begitu keras memaksa kakakku tertua untuk menempuh kuliah yang tidak disukainya, sehingga kakakku itu mengalami frustrasi hingga sekarang.

“Bapak begitu keras pada kalian, mengapa tidak padaku?” Aku bertanya suatu ketika. “Karena kamu sudah mewarisi kenekatan dan keberanian Bapak,” sahut kakakku. Ah, aku harap begitu. Satu-satunya sumber keberanianku saat ini adalah apa yang terbaik bagi anakku, tidak lebih. Meski mungkin, soal kenekatan, kakakku benar. Pilihanku untuk keluar dari rumah, dan menikahi suamiku sekarang, penuh didasari kenekatan. Anakku juga lahir dari kenekatan; aku harus punya anak, meski misalnya aku sedang menganggur sekalipun. Tapi Bapakku memang ‘nekat’: nekat memilih miskin di saat kemungkinan untuk meraup untung dari proyek begitu besar. Ya, ‘kenekatan’ lain Bapakku adalah memilih untuk hidup lurus dan jujur meski jauh dari kaya materi. Tapi, Bapak ‘kaya’ di sisi lain.

Dan kini, aku merindukan ‘kekayaan’ Bapak yang tidak pernah sempat aku nikmati – berdiskusi panjang lebar dengan Bapak.

Kategori: Aku dan dia