perempuan biasa…

Entries categorized as ‘Uncategorized’

Diet, Garam, dan Impor Pangan

September 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya sedang diet. Bagi yang pernah melihat saya, mungkin terperangah. Sudah kurus begini (berat 53 kg, tinggi 164 cm), masih diet? Kurang kurus apa lagi?

Tapi itu bukan keheranan yang aneh. Umumnya kita memang menganggap diet itu tidak lebih daripada mengurangi porsi makan, untuk menurunkan berat badan. Beda tipislah, dengan puasa. Bedanya, puasa didahului niat, hanya pada hari tertentu, dan Insya Allah, mendapat pahala dariNya. Sedangkan diet, bagi saya – yang entah dikutip dari mana, saya lupa – adalah suatu perilaku pengaturan pola makan maupun apa yang dimakan, yang dilakukan secara sadar karena menyadari manfaatnya.

Saya sendiri tidak ingat bahwa sedang diet, karena saya jalani begitu saja secara teratur. Ingatan muncul, ketika adik my hubby yang laki-laki – datang ke rumah. Karena saya hanya punya tempe, saya tawari tempe goreng. Dan jawabnya; “aku minta tempe mentah saja , dua iris.”

Waw, tempe mentah? Reaksi pertamaku, bengong. Yang benar saja, masak hanya makan kacang kedelai yang terbalut ragi segar begitu saja? Tapi saya turuti. Kebetulan saya punya yang dibungkus daun pisang, favorit saya juga. Tempe, adalah panganan favorit keluarga, termasuk anakku. Hanya belum terpikir menyantapnya mentah-mentah. Lalu, ipar saya itu bercerita soal kawan-kawannya yang hanya menyantap tempe mentah dan madu. Kawan-kawannya itu – yang berusia tujuh puluhan tahun – masih tetap segar dan berstamina – bahkan masih kuat menempuh jarak ratusan kilometer dengan menyupiri sendiri – konon karena apa yang dimakannya tersebut. Sebagian besar usia yang dihabiskan sebagai tahanan politik di Pulau Buru tampaknya ikut mempengaruhi pola makan mereka. Dan ipar saya pun ikut ‘tertular’ kebiasaan tersebut.

Tapi bicara tempe dulu dan sekarang, tentu beda. Sekarang, tempe, bukan lagi ‘milik’ Indonesia. Beberapa perusahaan asing sudah menguasai hak paten produksinya secara skala internasional. Bahkan konon, hak paten itu pula yang menjegal sosok Sobron Aidit, ketika dalam pengasingannya di Perancis ingin memproduksi tempe, sebagai bagian dari bisnis rumah makan Indonesia yang dikembangkannya. Bahan baku utamanya, kedelai, Pemerintah Indonesia bahkan masih harus mengimpor 70% dari kebutuhan nasionalnya. Jadi ya nggak heran, kalau masih ingat, gejolak harga kedelai dunia (hingga 100%!!) langsung memicu krisis tempe dan tahu di Indonesia, 2007 lalu. Saya? Ya, pusing juga waktu itu! Panganan favorit, yang banyak dianggap murahan, lha kok ternyata tidak murah!

Kemarin, sewaktu saya menghadiri undangan diskusi di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, lagi-lagi bersentuhan dengan isu pangan. Topiknya memang seputar globalisasi dan produksi pangan lokal. Salah satu isu yang diangkat (yang sudah sering saya dengar) adalah dekonstruksi wacana nasi atau beras sebagai makanan pokok bagi Indonesia – sehingga masyarakat yang tidak mengkonsumsi beras dianggap terkena krisis pangan. Di sisi lain, Indonesia sebenarnya punya beraneka jenis pangan selain beras. Dekonstruksi ini hanyalah untuk membuka keran bagi WTO untuk menekan pemerintah Indonesia agar mengimpor beras – dan selanjutnya menimbulkan ketergantungan terhadap beras. Padahal; “Nasi itu bisa bikin mati orang.” Kurang lebih begitu dia menirukan opini anaknya yang kuliah di kedokteran. Intinya, nasi bukan panganan yang sungguh menyehatkan sebenarnya. Meski pendapat pemasalah (atau anaknya) itu terlalu ekstrim bagi saya, saya sepakat bahwa nasi tidak seharusnya dikonsumsi banyak-banyak. Saya sendiri sudah lama mengurangi konsumsi nasi, terutama sejak merasa sistem pencernaan ini agak kurang beres. Sebagai gantinya, saya lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat tinggi, atau buah. Awalnya memang berat, tapi kemudian, tubuh saya terkondisi dengan sendirinya, sehingga porsi kecil nasi pun sudah mendatangkan kekenyangan.

Selain nasi, saya juga mengurangi garam dan gula. Dua bahan pangan yang sedang jadi hot issue belakangan ini. Gula, karena harganya meroket hingga 10 ribu per kilogram. Saya mengurangi gula, begitu menyadari ibu saya pernah terkena gejala diabetes.

Sementara garam?

Saya pernah googling mengenai isu pangan, dan alamak…! Kompas 24 Agustus 2009 menyebutkan bahwa anggaran belanja impor pangan Rp 50 trilyun, atau 5% dari total APBN. Kedelai sudah pastilah termasuk di dalamnya, bersama gandum, daging sapi, susu sapi, gula, dan garam. Nah, ini yang paling bikin saya kaget, bahkan garam pun kita impor! Hingga Rp 900 miliar pula!

Seorang kawan saya, di facebook langsung memprotes informasi yang saya share soal impor garam ini. Ia, yang asal Sulawesi, menyebut Jeneponto, suatu kabupaten di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai penghasil garam beryodium terbesar di Indonesia. Ah, saya juga malah jadi ingat pulau asal usul saya, Madura, yang sedari dulu terkenal sebagai penghasil garam. Jadi apa kabarnya Jeneponto dan Madura, jika pemerintah kita lebih suka mengimpor garam? Ketika pekerjaan yang biasa ditekuni tidak menghasilkan lagi, bisa-bisa jadi pengemislah mereka. Padahal mengemis sudah difatwakan haram di Madura, dan dianggap pelanggaran Perda TIBUM di Jakarta. Persis salah satu judul film Warkop DKI; Maju Kena, Mundur Kena. Sial betul ya, nasib orang kecil…!

Konon, garam produksi lokal kurang bermutu, sehingga impor menjadi jalan keluar. Aneh juga, kenapa biaya sedemikian tidak dipergunakan untuk peningkatan kualitas saja? Lagipula, seberapa banyak sih sebenarnya kita membutuhkan garam? Saya cukup bersyukur bahwa lidah ini tidak tergantung kehadiran garam dalam jumlah banyak. Suami saya sampai membuat rangking di keluarga kami, dan dengan mengesampingkan anak kami, saya menduduki peringkat buncit soal “level keasinan”. Kalau memasak, saya biasanya pesan ke hubby, supaya dia tambahkan garam sendiri ke piringnya, karena saya belum tentu cocok dengan “level keasinan” dia. Itu solusinya, karena dia suka menggerutu; “Mami  kalo masak kurang asin!” Yang kadang kujawab becanda: “Kalo keasinan nanti disangka Mami pengen kawin lagi..”

Begitu pun gula. Kopi favorit saya adalah black coffee. Definitely no added sugar. Kopi sachetan kesukaan hubby sering saya ledek dengan: “kopi rasa sirup” karena saking manisnya. Dengan itulah, gula 1 kg yang saya simpan, malah bisa bertahan sampai berbulan-bulan, saking iritnya.

Jadi, apa hubungannya diet saya dengan impor pangan?

Yang jelas, saya memang mendambakan bahwa apa yang kita butuhkan, sudah ada di negeri sendiri. Bicara soal kebutuhan bukan hanya jenis atau variannya, tapi juga kuantitas serta kualitasnya. Kalau saya diet, itu karena saya mengakui bahwa saya masih membutuhkan jenis pangan tertentu, tapi tidak dalam porsi seperti kebanyakan orang pakai. Memang jadi soal lain, jika definisi kebutuhan itu diciptakan oleh pihak yang berkepentingan. Ibarat iklan, kita akan dibuat percaya bahwa kita membutuhkan fitur-fitur yang ditawarkan, bukannya mengenali betul kebutuhan kita sendiri. Dan, saya percaya, bahwa persoalan impor pangan ini sesungguhnya adalah persoalan membaca kebutuhan mereka yang selama ini justru terabaikan. Jika terus menerus impor, kapan kita bisa fokus pada pembenahan kualitas produksi sendiri, yang akan berkontribusi pada peningkatan daya serap tenaga kerja dan kesejahteraan rakyat?

Ah iya, saya cerita ke hubby soal impor garam. Dan apa katanya? “Ya sudahlah Mi, goreng tempe nggak usah pake garam, atau…nggak usah dimasak sekalian, gimana Mi? Alias mentah! Kan katanya bisa bikin awet muda.”

Lama-lama, saya bisa tersihir juga oleh ‘iklan’ yang dibawa para eks tapol tersebut.

Kategori: Uncategorized

Protes

Juni 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Di antara hiruk pikuk percakapan di facebook, saya pernah membaca sebuah kalimat, begini: “Dalam kesulitan, kita mengenal siapa kawan.”

Ah, kalimat yang menarik. Saya jadi terpancing untuk menulis juga:

“Dalam kesulitan, kita jadi lebih tahu siapa kita.”

Tentu, itu hasil refleksi pribadi. Dalam situasi sulit, kita jadi sulit berpura-pura. Kita akan mengerahkan sisi pribadi kita sesungguhnya, dalam rangka mengatasi kesulitan.

Dan, suatu hasil refleksi pula, membuatku ingin menulis begini (mungkin lebih sebagai protes atas kalimat pertama):

“Manusia macam apa pula, yang mencari kawan, hanya ketika ia mengalami kesulitan?”

Kategori: Uncategorized

Perempuan itu..(4)

Mei 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perempuan itu sudah duduk di kursinya, saat aku datang. Haha, tumben dia mendahuluiku.  Nafasku agak tersengal ketika menarik kursi dan menghempaskan pantatku di atasnya.

“Maaf…..” Aku mencoba tersenyum. Perempuan itu tak membalasku. Dia hanya diam. Wajahnya agak memerah.

Hei…ada apa?

“Aku minta tolong sesuatu, bisa?”  Perempuan itu tampak begitu bertekad bulat. “Diamlah sejenak, beberapa detik saja.”

Tak sempat aku menarik napas, aku melihat perempuan itu mengangkat cangkir kopinya ke atas kepalaku. Aku terdiam kaku, badanku beku bagai kena sihir. Dengan perlahan, perempuan itu mengayunkan cangkirnya, dan hanya sekian centi dari rambutku, menumpahkan isi kopi itu melewati pundakku.

Mulutku ternganga bagai baru melihat ilusi kelas tinggi. Kamu…..!!

“Hahahahahaaha…” Perempuan itu tertawa lepas. Dasar perempuan sinting. Aku dapat mencium aroma kopi yang sedikit menumpahi pundakku, dan mungkin juga rambutku.

“Kamu tahu…? Aku baru saja membayangkan kamu sebagai orang itu…..”

Hah. Orang yang mana? Kamu kemarin bercerita tentang hasratmu yang muncul kembali, ketika ia kembali menyapamu. Kini kamu ingin menumpahkan secangkir kopi panas di rambutnya?

“Bukan orang yang kemarin menyapaku..” Perempuan itu mendengus. “Dengan dia, hubungan kami tetap baik. Kami tetap berteman baik, meskipun tidak seperti kebanyakan teman. Hahaha. Ini, tentang orang yang kuperkenalkan ke kamu lewat ceritaku yang pertama..”

Owh. Aku sejenak diam mengingat-ingat. Kunyalakan laptop, dan sambil menunggu, aku melayangkan pikiran pada suatu cerita yang menurutku aneh, dan agak gila.

Oooh…yang itu….kenapa dia? Kalian sudah berbaikan? Eh…salah ya..hehehe.. Aku terkekeh sumbang. Perempuan itu tersenyum, menyeringai tepatnya.

“Ya, ‘berbaikan’. Dan ‘salam’ yang ingin kusampaikan kepadanya adalah, menyiramnya dengan kopi seperti tadi.”

Hei.. ada apa lagi? Kupikir kamu sudah melupakan kemarahanmu karena soal proyek kalian dulu itu.

“Sebenarnya, iya. Soal proyek itu, meskipun sampai detik ini dia tidak punya nyali untuk menjelaskannya kepadaku seperti komitmen awal kami sebagai tim, tapi aku mulai memaafkannya. Memaafkan, meski tidak melupakan.”

Ah, syukurlah…. Aku tidak menyembunyikan kelegaanku. Moccachino yang tiba di mejaku langsung kuhirup aromanya. Senyumku merebak di bibir cangkirnya.

“Tapi memang, memaafkan pun ada ujiannya. Aku mendengar bahwa, dia pernah bersumpah untuk tidak menghubungiku, demi kelancaran fasilitas dari pacarnya.”

Oya? Benarkah? Lagi-lagi, mulutku ternganga.

“Aku belum konfirmasikan ke dia, tapi aku yakin itu benar. Aku pun berpikir demikian, dulu itu. Tapi aku tidak menyangka akan mendengar pembenarannya, meski bukan dari dia langsung. Sejak kami ribut-ribut soal itu, dan dia memilih berlindung di balik ‘ketiak’ pacarnya, aku sudah menganggap dia tidak lebih dari pengecut berbaju kiri.  Ya, ironis sekali, salah satu penggerak kegiatan kiri yang dianggap berani itu tidak lebih dari seorang pengecut. A real coward….!”

Eh, sebentar..sebentar…

Aku menghirup moccachinoku, mengecek layar komputerku, dan menatap matanya. Wajah perempuan itu memerah. Aku bisa merasakan hawa kemarahan dan kebencian yang kuat. Tapi kenapa? Kenapa kamu harus marah dengan adanya sumpah itu?

“Aku pikir, kalau dia ingin meninggalkanku, tinggalkan saja, tidak perlu bersumpah. Buat apa bersumpah? Ingin menegaskan kepada pacarnya dan teman-teman pacarnya itu bahwa dia setia? Bahwa dia laki-laki baik-baik? Bahwa dia tidak ada cela, sementara akulah sipenganggu? Akulah yang merusak hubungan perkawanannya dengan seseorang, dan kemudian menjadi ancaman bagi hubungannya dengan pacarnya, yang memodali dia selama ini?”

Perempuan itu mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Lalu tiba-tiba meludah ke tanah. Huh! Aku sempat kaget. Kupikir dia akan bereksperimen dengan meludahiku juga. Ampun deh…

“Pengecut berbaju kiri. Aku rasa itu julukan paling tepat buat dia saat ini dan seterusnya.”

Hmmm. Sebentar, perempuan….boleh aku bicara?

Perempuan itu diam. Tidak menolak atau mengiyakan.

Aku rasa dalam diri semua orang yang paling pemberani sekalipun selalu ada sikap pengecut……..

Perempuan itu menatapku tajam, seperti ingin mengiris-irisku.

Ya. Begitulah. Sikap ‘pengecut’ yang sebenarnya untuk melindungimu. Dia takut untuk mengakui secara terbuka bahwa dia mencintaimu, karena itu akan melukai orang lain, dan pada akhirnya, mengganggu kerja-kerjanya selama ini. Dia harus memilih. Dan dia memilih, apa yang menurutnya paling berpeluang untuk melancarkan kerja-kerjanya.

“I’m not surprised.” Perempuan itu tersenyum getir.

Mungkin laki-laki itu hanya tidak kuasa untuk terlalu keras padamu. Dia ingin ‘menyingkirkan’mu, karena dia tidak ingin kamu terus menerus merasa tidak nyaman berada di lingkungannya. Di matamu dia tampak seperti pengecut, tapi mungkin yang terjadi sesungguhnya adalah, dia sedang mengorbankan citranya di matamu, agar kamu membencinya dan dengan ‘senang hati’ menjauh.

“Hahaha. Menggelikan.”

Aku membuang pandanganku, seolah tak acuh.  Dan kamu sendiri… selama ini bersikap pengecut juga, bukan?

Aku bisa merasakan perempuan itu kini menatapku dengan tatapan membakar.

“Maksud kamu…………..”

Ya. Kamu tidak berani bersikap tegas dalam menghadapi masalahmu dengan suamimu, bukan? Kamu takut jika harus berpisah, dan meninggalkan kenyamanan materi selama ini dengannnya bukan? Kamu terlalu pengecut untuk secara terbuka mengatakan kepada suamimu; “Yes, we have a serious problem!” dan mengajukan beberapa opsi, di antaranya berpisah, bukan? Ya, kamu pengecut! Dan di antara semua alasan itu, kamu paling takut berpisah dengan anakmu bukan?

Perempuan itu diam, dengan bibir bergetar.

Sekonyong-konyong ia bangkit. Aku agak terlambat mengelak. Tangannya sudah merebut cangkir moccachinoku yang tinggal separuh, dan melemparkannya ke arah mukaku. Aku berusaha menepisnya, tapi terlambat. Sebagian wajahku terciprat sudah. Sebagian lain membasahi blus putihku. Cangkir itu sendiri terhempas ke tembok, dan pecah berkeping, menyobek keheningan di café sore itu.

Seorang petugas café menghampiriku, dengan tatapan takut dan cemas. Sementara ia membereskan semua bekas kericuhan, aku menatap titik di mana perempuan itu semula berada.

Kosong.

Kategori: Aku dan dia · Uncategorized

“Termehek-mehek” dan altruisme kita

Januari 24, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kembali di antara dua lelakiku di Jogja, aku menyadari ada satu kebiasaan baru si Big Man alias “Ayah”. Yaitu, hobinya sekarang menonton reality show yang mengumbar emosi, seperti Termehek-mehek, Orang Ketiga, Saat Kumenjadi, dan sejenisnya.

“Ayah!” aku sempat protes. “Sejak kapan Ayah menonton beginian?”

“Habis, pusing menonton berita! Beritanya bikin marah saja.”

Hoho, memang juga sih. Menonton berita, yang hanya seputar pembantaian di jalur Gaza, kelangkaan gas elpiji dan BBM di berbagai tempat, petani yang kesulitan mendapat pupuk bersubsidi, kampanye parpol dan capresnya yang mengumbar janji-janji muluk, memang kadang membuat kami mendadak “tua” sebelum waktunya. Buatku yang punya bawaan migrain menjelang menstruasi, rasa kepala dihantam “martil” itu bisa datang jauh sebelum waktunya.

Ah, okelah…sesekali “menghibur diri” dengan menonton acara yang menurutku juga “semi sinetron” ini. Kenapa “semi sinetron?” Respon orang-orang yang terlibat di dalamnya menurutku kadang seperti “terinspirasi” sinetron, haha. Atau memang begitukah realita yang tertangkap kamera, dampak dari “sinetron”? Ah, apapun di balik itu, saya coba menghargai selera tontonan Ayah. Faktanya, acara-acara semacam ini dewasa ini banyak digandrungi. Indikasinya jelas, dari banyaknya iklan, dan begitu popularnya, sehingga ketika saya mampir ke suatu cafe di dekat rumah saya, televisi di sana juga menayangkan acara ini.

Menjadi saksi dari suatu realita yang manusiawi, tampaknya itu yang menjadi kekuatan dari acara semacam ini. Emosi kita dibuat ikut terbawa dalam suatu proses yang altruistik – membantu orang lain- sehingga tanpa sadar kita terdorong memuaskannya dengan terus menyaksikan acara semacam ini. Ya, bisa jadi altruisme dalam diri kitalah yang bekerja ketika menontonnya. Bahkan menjadi semacam kehausan yang menuntut dipuaskan. Dan, menanjaklah rating acara semacam ini.

Altruisme – dipopulerkan oleh filsuf Auguste Comte tahun 1830, bermakna kurang lebih “melakukan sesuatu untuk atau mendahulukan kepentingan orang lain”. Kebalikan dari egosentrisme, dorongan ini berbentuk keinginan untuk peduli atau menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi, termasuk keinginan untuk menolong orang lain.

Dalam acara “Termehek-mehek”, misalnya, kita dibawa oleh perjuangan tim acara ini membantu klien mereka menemukan orang yang lama dicari-cari. Harapan bahwa klien tersebut – meski kita tidak kenal sekalipun – menemukan orang yang mereka kasihi, tanpa kita sadari, membuat kita terbuai memelototi acara ini sampai selesai. Di tengah frustrasi begitu banyak persoalan di dunia yang tidak kunjung selesai, sementara kita sendiri merasa tak berdaya mengatasinya, menyaksikan sang klien menangis haru dan bahagia ketika menemukan orang yang dicari-cari seburuk apapun kondisinya, bagaikan air segar yang menyirami di kala kemarau.

Apakah kita hanya akan berhenti sebagai pemirsa saja? Setiap orang pasti punya jawabannya sendiri-sendiri. Tapi melakukan sesuatu untuk orang lain, sebenarnya sangat mungkin kita lakukan, sekecil apapun. Saya ingat ketika dua tahun lalu mengurus perpanjangan SIM di kantor Samsat Sleman. Ketika di suatu ruangan, seorang petugas berseragam – tanpa malu – meminta (tambahan) uang Rp 10.000 tanpa tujuan jelas (katanya untuk uang film, padahal saya tahu foto di SIM dicetak secara digital), sementara saya sudah lunasi biaya resmi di awal, saya langsung bertanya keras; “Uang film untuk apa lagi? Bukankah dengan membayar sesuai ketentuan resmi, saya sudah berhak diproses sebagaimana mestinya sampai selesai?” Dengan wajah merah padam, bapak petugas itu langsung menenangkan saya. Akhirnya saya bebas dari pungli, tapi bukan itu saja. Seorang bapak di belakang saya kemudian berterima kasih; “Matur nuwun lho mbak, karena mbak, saya jadi tidak dimintai uang juga.” Jujur saja, perasaan saya agak bingung…bukankah memang sudah seharusnya pungli itu tidak terjadi? Bapak itu tidak seharusnya berterima kasih untuk apa yang seharusnya dia dapatkan…

Saya lakukan itu bukan karena altruisme, tapi jika didorong oleh altruisme, saya yakin akan banyak orang yang mau dan berani melakukannya. Melakukan hal kecil, yang awalnya hanya untuk melindungi kepentingan diri pribadi, tapi dapat berdampak pada terbantunya kepentingan orang banyak. Karena pada dasarnya, saya yakin, dorongan untuk bermakna bagi orang lain, tumbuh subur di antara kita, menembus tembok setebal apapun.

Ya, semoga kita tidak berhenti hanya pada melihat orang termehek-mehek di layar kaca…

Kategori: Uncategorized

Melihat Mama Tidur

Januari 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tadi siang, aku melihat Mama tidur. Napasnya teratur dan hening. Beberapa saat, waktu seperti bersahabat dengannya. Berteman dengan kerentaan yang menyelimutinya. Tapi tidak akan lama.

Beberapa jam sebelumnya, aku dan seorang kakakku, menemani Mama ke kantor sebuah BUMN, di mana Bapakku (alm) pernah bekerja di sana. Sebuah harapan sekaligus ketidakpastian terus membayangi setiap langkah. Keinginan dan kesadaran akan realita sesungguhnya – terus berlomba merebut posisi dalam keyakinan kami. Ketika kami bersua dengan salah seorang kawan sejawat Bapak yang juga sudah pensiun – dan memancarkan optimisme, Mama tampak ikut “terbakar” optimisnya.

“Bapak kalian itu orang lurus, orang baik, tidak ada duanya di instansi ini.” Kata Pak Ab, kembali membesarkan hati.

“Iya,” Mamaku tertawa. “Begitu lurus sampai tidak meninggalkan apa-apa,”

“Rejeki datang dari mana saja, tanda tangan sajalah,” kata bapak itu, Pak Ab, sebut saja.

Orang lurus, orang baik, tidak ada duanya. Apakah artinya, kami tinggal berharap mukjizat, sebagai “imbalan” kebaikan Bapak selama ini? Haha. Aku tersenyum getir dalam hati. Tapi kami memang butuh mukjizat. Tidak mungkin kami bisa memenuhi tanggungjawab perjanjian yang diajukan kepada kami.

Bukan berarti kami tidak pernah mengalami mukjizat. Salah satu mukjizat di dunia ini, menurutku, adalah Mama. Delapan belas tahun Mama merawat kami semua sejak Bapak tidak ada, ke-enam anak yang keras kepala. Selama itu, Mama bangun setiap pukul 3 pagi, untuk memasak nasi dan sholat shubuh. Tapi sejak aku belikan rice cooker, Mama bisa bangun sedikit lebih siang, jam 4 pagi. Katanya, rice cooker merangkap warmer itu membuat Mama sedikit lebih santai memasak. Dedikasi Mama dalam hal memanjakan kami lewat perut, tidak bisa dipungkiri. Mama tidak pernah melewatkan ulang tahun anak-anaknya begitu saja. Hampir di sepanjang usia kami, Mama akan memasak nasi kuning lengkap dengan lauk pauk bistik, ayam goreng, abon dan telur pada tanggal kami (yang 6 orang ini, plus Bapak semasa hidup) ulang tahun. Bahkan meski aku sedang di Yogya sekalipun (semasa kuliah aku hampir tidak pernah pulang ke Jakarta kecuali lebaran!). Suatu bentuk konsistensi yang aku sulit bayangkan. Jangankan mengurusi 6 anak, satu saja aku kadang kewalahan. Apalagi kalau Gabriel kumat keras kepalanya…! uuughh…

Dan siang ini aku melihat Mama tidur, di kamar yang sudah 29 tahun menemaninya. Dengan setiap sudut kamar yang menyimpan cerita – sedih, bahagia, nestapa, bimbang, cinta.

Kategori: Harian · Uncategorized

Kiat Membeli Produk “Politik”

Januari 7, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Belum lama ini, seorang kawan di facebook memuat catatan tentang poster seorang calon legislatif (caleg). Menariknya, poster itu menampilkan sang caleg dengan pose perempuan cantik, dikenal sebagai artis penyanyi terkenal – yang konon anaknya. Dengan quote: “Jual anak demi kursi. Setan Alassss..!” note atau catatan tersebut segera menyita perhatian. Entah karena quote-nya, atau karena pose perempuan cantik yang bersanding dengan pria paruh baya, entahlah.

“Jualan” demi kursi di Senayan memang sedang jadi pemandangan sehari-hari belakangan ini. Sejak berbulan-bulan lalu, kita sudah mulai melihat ramainya partai politik dan calegnya “kulakan”. Poster-poster dengan wajah-wajah tersenyum lebar, pamer optimisme, dengan deretan gelar di belakang namanya, berebut ruang di wilayah publik. Enakkah dilihat? Silakan dijawab masing-masing deh. Saya malah ingat komentar seorang warga kota yang diwawancara sebuah harian ternama nasional dengan sinis mengatakan: “Buat apa peduli? Saya kenal mereka saja tidak.” Harian itu mengupas dampak kampanye yang bukannya membuat orang tertarik, malah membuat wajah kota menjadi semrawut.

Bicara komentar, saya lagi-lagi ingat komentar kakak saya, tentang salah satu poster caleg. “Mirip muka motivator ya,” katanya sambil cengengesan. Lho? Saya agak bingung. “Maksudnya, mirip orang yang suka menawarkan nasehat yang belum tentu bisa dijalankan orang lain.” Oalah. (Maaf, saya yakin bukan maksud kakak saya melecehkan profesi tertentu. Murni pendapat!) Saya malah berpikir, kalau caleg itu benar-benar motivator, mungkin akan berbeda pendekatannya. Haha. Semoga saja.

Memilih parpol atau caleg, bisa diibaratkan memilih barang. Saya bicara dari sudut pandang konsumen sajalah. Ada beberapa faktor yang penting dipertimbangkan dalam “membeli”. Yang pertama adalah; faktor kualitas. Yaitu, bagaimana produk tersebut berfungsi memenuhi kebutuhan kita. Kalau kita lihat salah satu iklan biskuit ternama yang dibintangi Ferdy Hasan di televisi, pendekatan yang dilakukan adalah dengan memberi informasi bahwa produk dihasilkan dari sebuah proses yang menjamin mutu dan kebersihannya. Begitu juga dengan “produk politik” bernama parpol dan calegnya. Kualitas ditentukan dari proses mereka terjun ke dunia politik. Bagaimana bisa dijamin kualitas dan “kebersihannya”, jika caleg tersebut lahir dari kolusi dengan petinggi partai? Dan bukan dari perjuangan merebut kepercayaan dari rakyat yang menjadi konstituennya?

Faktor lainnya, keawetan produk. Kalau saya beli barang untuk digunakan selama satu tahun, tentu saya tidak akan membeli barang yang hanya tahan tiga bulan. Biasanya rekomendasi konsumen lain yang pernah memakai akan saya dengarkan. Artinya, jika “produk politik” itu hangat-hangat tahi ayam, alias hanya konsisten di tahun pertama duduk di senayan, ya lupakan sajalah. Kita toh punya catatan, mana parpol atau caleg yang konsisten dengan visi misi yang berpihak kepada rakyat, dan mana yang tidak. Kalau sedari awal sudah tampak bahwa caleg atau parpol ini tidak peduli dengan kepentingan rakyat saat ini, jelas ini masuk kategori “kadaluwarsa”.

Pertimbangan lainnya adalah, harga. Sesuai tidak sih, manfaat yang kita dapat dengan biaya yang kita keluarkan? Kalau caleg atau parpol yang bersangkutan punya riwayat “sulit menerima kekalahan” dan terus menuntut penghitungan ulang, atau malah pemilihan ulang, aduh, lupakan deh. Penghitungan ulang , atau bahkan pemilihan ulang, jelas dan nyata-nyata menguras bukan saja biaya yang harus dikeluarkan negara dari uang rakyat, tapi juga menyita emosi, tenaga dan lain sebagainya, yang tidak bisa dihitung dengan uang. Apa lagi jika bentuk ketidakpuasan itu berujung pada pengerahan massa, dengan wajah-wajah sangar, yang biasanya sudah tidak sudi berdialog dan cenderung anarkis. Sudah biaya mahal, begitu dinyatakan terpilih, belum jaminan pula optimal kerjanya.

Berjualan memang tidak mudah, begitu juga menjual “produk politik”. Saking ketatnya persaingan “penjualan” (saat ini ada 38 parpol yang akan mengikuti pemilu), kreativitas dituntut untuk merebut kepercayaan rakyat. Jangan pula menganggap rakyat terus mudah dibohongi. Mereka mungkin tidak bisa membaca, atau menulis, tapi mereka tidak lupa atas kebohongan yang mereka alami. Dan jangan lupa, di tengah krisis global ini, mereka mulai hati-hati membeli “produk”, yang sesuai “kantong” dan kebutuhan, dan juga dipastikan…”belum kadaluwarsa”.

Kategori: Refleksi · Uncategorized

Perempuan itu..(2)

Desember 11, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perempuan itu datang lagi. Setelah berbulan-bulan aku tidak mendengar kabarnya, dia datang lagi. Seperti biasa, kehadirannya tidak kuasa kutolak. Uugh. Seperti biasa pula, aku kembali menyiapkan laptop dan bersiap mendengarkannya.

Raut wajahnya tampak segar. Aha! Ada kabar baik tampaknya. Apa kabarmu? Kusapa ia yang kini duduk menyeruput kopi arabica di hadapanku.

“Baik,” Perempuan itu tersenyum. “Aku menikmati kehidupanku belakangan ini.” Oya? Kehidupan yang mana nih? Aku langsung tergelitik untuk bertanya lebih jauh. Ya, aku masih ingat ceritanya terakhir kali. Tentang ’seseorang’ itu.

“Aku menikmati kehidupanku secara menyeluruh. Sosialisasi dengan kawan-kawan, belajar hal-hal baru,dan lebih mengeksplorasi minat dan potensiku. Aku sadar bahwa aku harus mulai fokus pada apa yang kucita-citakan..” Ohya? Apakah cita-cita itu? Tiba-tiba aku urung bertanya tentang ’seseorang’ itu. Nanti juga dia akan bercerita sendiri, jika memang waktunya.

Aku ingin mempunyai media sendiri, yang memungkinkan aku berbuat banyak bagi kemanusiaan. Aku juga ingin lebih banyak fokus pada perkembangan anakku, karena aku tahu, aku bisa membimbingnya menjadi manusia yang peduli. You know what? aku selalu berdoa agar anakku tumbuh menjadi manusia yang membawa manfaat bagi mereka yang tertindas.”

Ohya? Menarik sekali. Biasanya orangtua ingin anak-anaknya meraih gelar terhormat, lulus perguruan tinggi terkenal, untuk kemudian menjadi orang kaya terpandang.

“Okay, materi itu penting. Tapi itu bukan tujuan utama. Materi itu hanya alat untuk mencapai sesuatu. Dan aku ingin anakku kelak tahu betul bagaimana menggunakan materi yang dia kejar dan miliki untuk suatu tujuan yang jauh melampaui materi itu sendiri….yaitu kebaikan orang banyak, khususnya, mereka yang teraniaya..”

Ahaa..menarik. Jujur, aku senang mendengarnya. Dalam hati aku mengamini.

“Bicara soal cita-cita, itu juga yang membuat aku mengenal dia, dulu itu. Kami punya mimpi yang kurang lebih sama; ingin melakukan sesuatu yang berarti bagi orang banyak. Dan saat-saat kami membahas soal itu, kupikir lebih menyenangkan daripada sekedar kedekatan fisik. Itu juga sebabnya, ketika dia menawariku terlibat dalam proyek kemanusiaannya, aku langsung bersedia. Buatku sungguh suatu kehormatan besar.”

Hehehe..akhirnya dia terbuka juga bicara tentang ’seseorang’ itu. Jadi kalian masih berhubungan sampai sekarang? Kini perempuan itu menghela nafas.

“Jujur saja, aku ingin kami berkawan baik. Pacarnya tahu bahwa kami pernah dekat, dan, sangat cemburu. Aku sendiri malas berseteru dengan sesama perempuan untuk urusan laki-laki. Lagipula, I have my own life, my own priority. Aku harus fokus pada keluarga dan anakku. Tahun depan dia mulai bersekolah, dan aku harus memastikan dia bisa melalui masa-masa itu dengan selamat. Aku juga harus fokus pada mimpiku. Jadi aku cukup kecewa dengan yang terjadi belakangan ini…”

Memangnya apa yang terjadi? Aku menatapnya tajam. Apakah pacarnya melabrak kamu? Atau bagaimana?

“Tidak, tidak begitu. Dia perempuan baik dan tahu bersikap. Tapi laki-laki ini yang ’aneh’. Dia mengabaikan masukanku untuk proyek kami, bahkan mencurigai maksud baik di e-mailku secara sepihak dengan beberapa kawan lain di belakangku. Ketika aku mempertanyakannya, dia bilang tidak ada masalah. Padahal apa yang terjadi itu, jelas masalah.”

Wah, sayang sekali, kalau begitu…tapi apakah memang kamu tidak punya maksud pribadi di balik segala masukanmu? Ah, siapa tahu kamu ingin bernostalgia…tahulah yang aku maksud. Perempuan itu tersenyum, senyum misterius. Mirip senyum Mona Lisa yang terkenal itu.

“Yang aku bayangkan adalah kami semua, aku, dia dan kawan-kawan lain bisa bertemu dan bercanda dalam suasana rileks dan santai..berdebat bila perlu, tapi tidak berujung pada sakit hati personal. Ah, berkawan itu menyenangkan! Dan aku menyukainya. Selain dengan dia aku juga dekat dengan seseorang. Dan aku menikmati perkawanan kami. Meski kadang kedekatan kami menjurus ke fisik, but most of all, we have a nice relationship as friends.”

Yaya..berkawan memang menyenangkan. Lalu, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu diam saja dengan sikap dia seperti itu? Menciderai perkawanan kalian?

“Aku sampaikan keberatanku, itu jelas. Tapi tampaknya dia tidak berani menghadapiku secara langsung. Itu juga aku sayangkan. Yang aku sayangkan pula, kepada seorang kawan, dia mengatakan bahwa; pacarnya yang membiayai proyek ini malah tidak banyak ngomong, mengapa orang lain banyak omong? Aku sedih sekali. Bukan apa-apa, aku sedih karena dia mengangkat soal materi dalam hal ini.”

Perempuan itu menghisap rokoknya, menarik nafas, dan menghembuskannya sembari menerawang. Sesaat senyumnya hilang.

“Aku seperti tidak mengenalnya. Dia begitu dikuasai materi. Padahal dia juga tahu bahwa proyek ini berjalan karena kawan-kawan punya komitmen dan loyalitas yang tidak diragukan. Dan itu, tidak bisa dinilai dengan uang…”

Ya, manusia berubah memang. Bukankah itu yang terjadi setiap hari? Perempuan itu diam sejenak, lalu tersenyum.

“Memang. Manusia bukan mahluk kekal. Bukan hanya berubah, dia bisa saja mati kapanpun. Aku, kamu, dia, siapapun, boleh saja mati. Tapi proyek ini harus terus berjalan. Karena proyek ini  adalah alat untuk perubahan. Dia juga pernah bilang, bahwa umur perubahan jauh lebih panjang dari umur manusia. Aku percaya itu.”

Perempuan itu bangkit perlahan, masih dengan senyum yang sulit ditebak. “Beginilah hidup. Tidak semuanya sesuai harapan. Aku juga masih punya masalah yang jauh lebih besar dari urusan ini. Jadi, aku harus mulai bergerak. Hahaha! Enak atau tidak enak hidup ini, dinikmati sajalah…apapun itu.”

Aku tersenyum pula mengiyakan. Laptopku masih terbuka, menanti kata-kata penutupnya sebelum pergi. Tapi ia hanya mematikan rokoknya, lalu beranjak pergi.

Tapi aku tahu dia masih akan kembali..suatu ketika.

Kategori: Uncategorized

Perkawanan, I Love You

Desember 9, 2008 · & Komentar

“Persahabatan, bagai kepompong..
hal yang tak mudah, berubah jadi indah..”(sindentosca)

Beberapa waktu lalu, aku pernah bilang ke seorang kawan yaitu Popon, bahwa aku mensyukuri situasiku belakangan ini. Aku merasa memiliki banyak kawan baru, yang dengan mereka, aku benar-benar bisa berbagi. Aku merasa, kehadiran mereka, bagaikan berkah. Termasuk dengan kawan saya itu yang bilang: “You’ve added color in my life.” Ahh, senangnya. Dengan Popon, aku sempat berbagi banyak hal, termasuk cerita pribadi yang tidak banyak orang lain tahu. Dengannya, aku merasa nyaman dan terbuka.
Jujur kuakui, kehadiran kawan, membuat banyak hal serasa lebih mudah, bahkan indah (Bukankah memang begitu seharusnya?).  Dengan Pipin, kawan sekantorku, kami suka nongkrong dan ngerumpi bareng – menertawakan banyak hal, termasuk kesedihan kami sendiri. Ya, ada situasi di kantor yang membuat kami sedih belakangan ini, tapi sudah mulai berlalu. Life goes on, and we have to leave it all behind. Lalu ada juga Andi, kawanku yang complicated (haha!). Sekilas memang tampak autis, tapi setiap aku punya uneg-uneg untuk ditumpahkan, kirim sms saja, dan dia selalu telpon untuk mendengarkan. “I’m a good listener,” katanya. Dan saya akui, ya.

Lalu kawan-kawan baru di dunia maya, yang membangkitkan semangatku saat jenuh. Ada satu orang, sebut saja AH (dia memang tidak suka publikasi – aku curiga, jangan-jangan dia ini agen spionase, mentang-mentang pernah di Moscow – hahaha!). kami suka diskusi tentang internet dan sosial politik ekonomi. Dia juga suka mengamati mediaonline mediabersama.com di mana aku kadang berkontribusi. Kadangkala, saran dan masukan dikemukakannya…sayang tidak sempat aku sampaikan ke kawan-kawan di mediabersama.com (MB).

Kawan-kawan di MB juga berkah buatku. Tanpa MB, aku tidak mungkin kenal Mulyani Hasan, yang imut putih cantik tapi rada galak itu. Ada juga Yunus, yang meski tidak sempat aku kenal mendalam, tapi aku tidak akan lupa wajahnya yang senantiasa sumringah. Lalu ada Sadikin, yang membuatku akhirnya mempublikasikan kartunku di dunia maya setelah belasan tahun membuat kartun. Juga Arif, yang lebih suka pergi ke internet dengan biaya sendiri daripada meminjam IM2 kawan untuk meng-upload berita. Militan, dan tidak bergantung. Masih banyak yang lainnya, dan aku menyayangi mereka semua sebagai “pewarna” dalam hidupku (meminjam istilah Popon). Mereka, dengan semangat yang ditularkannya ke diriku, membuatku lebih bisa memaknai hidup. Aku merasa begitu banyak inspirasi bergulir, lewat perkawanan ini. Inspirasi yang…ah, tidak bisa dinilai dengan uang, karena terkait dengan cita-cita hidupku selama ini.

Jadi, sayang sekali, jika perkawanan itu terancam hilang, hanya karena ada yang tidak terbuka, atau merasa lebih berhak untuk berperan, dibanding yang lain. Itikad baik untuk membicarakan masalah secara terbuka, ditanggapi penuh kecurigaan. Bersembunyi di balik kata-kata: “tidak ada masalah, tidak ada yang perlu dibahas.” yang justru menunjukkan begitu banyak masalah yang coba ditutup rapat. Kawan sesungguhnya akan mengakui adanya masalah, sekecil apapun itu, dan bukannya menutupinya. Ibarat bisul, seharusnya dirawat sehingga pecah dan sembuh, bukannya ditutup rapat sehingga menjadi infeksi. Bukankah pergesekan dan perbedaan pendapat dalam perkawanan itu wajar?

“Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan, namun itu karena kusayang…Persahabatan, bagai kepompong, mengubah ulat, menjadi kupu-kupu, persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah, berubah jadi indah, persahabatan bagai kepompong, memaklumi teman, hadapi perbedaan..” (sindentosca)

(Untuk kawan-kawan dan perkawanan yang aku sayangi).

Kategori: Harian · Refleksi · Uncategorized

The Winner Takes It All (ABBA)

September 25, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

I don’t wanna talk

About the things we’ve gone through

Though it’s hurting me

Now it’s history

I’ve played all my cards

And that’s what you’ve done too

Nothing more to say

No more ace to play

The winner takes it all

the loser standing small

beside the victory

that’s her destiny

I was in your arms

Thinking I belonged there

I figured it made sense

Building me a fence

Building me a home

Thinking I’d be strong there

But it was a fool

Playing by the rules

The Gods may throw a dice

Their minds as cold as ice

And someone way down here

loses someone dear

The winner takes it all (takes it all)

the loser has to fall (has to fall)

It’s simple and it’s plain (yes, it’s plain)

Why should I complain

But tell me does she kiss

Like I used to kiss you

Does it feel the same

When she calls your name

Somewhere deep inside

You must know I miss you

But what can I say

Rules must be obeyed

The judges will decide

the likes of me abide

Spectators of the show

Always staying low

The game is on again (all again)

A lover or a friend (Or a friend)

A big thing or a small (Big or small)

The winner takes it all (takes it all)

I don’t wanna talk

If it makes you feel sad

And I understand

You’ve come to shake my hand

I apologize

If it makes you feel bad

Seeing me so tense

No self-confidence

But you see

The winner takes it all

The winner takes it all

Someone winner

Takes it all

And one loses

Has to fall

From a guide From the side

Makes that feeling

Someone here

Takes it all

Has to fall

this is magic

someone here

Kategori: Refleksi · lagu favorit

“Sialan, Tuhan!”

September 19, 2008 · & Komentar

Jagalah lidahmu selama bulan puasa, begitu orang bilang. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus fisiologis, tapi juga hawa nafsu. Termasuk nafsu untuk mengumpat, alias “misuh”. Tapi, pada suatu hari di bulan puasa, lidahku berontak untuk misuh. “Sialan, Tuhan!”

Bagaimana tidak? Di Pasuruan, 21 orang tewas mengenaskan sewaktu berebut zakat yang dibagikan seseorang kaya, 15 September lalu. Mereka tewas terinjak-injak dan kehabisan oksigen di antara ribuan massa yang bergulat demi uang sepuluh hingga tiga puluh ribu rupiah. Sebagaimana dirilis di berbagai media, pagar bambu yang didirikan untuk mencegah bertambahnya peminta, justru menjebak mereka yang terlanjur ada di dalam. Tempat berebut rejeki menjadi tempat meregang nyawa.

Kejadian seperti ini bukan yang pertama, tapi tampaknya tragedi Pasuruan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, pembagian zakat di Gresik, Jawa Timur, memakan korban 1 tewas dan beberapa lainnya luka-luka; di Jakarta tepatnya di Pejaten, Pasar Minggu, 4 orang tewas ketika berebut zakat; dan beberapa kasus serupa di wilayah lain.

Inilah “sialan” itu. Pertama, tragedi ini terjadi di bulan yang dikatakan penuh berkah. Kedua, korban tampaknya hanya menganggap hal ini sebagai musibah belaka, yang artinya, tidak perlu ada yang dituding bertanggungjawab; ketiga, rentetan musibah sebelumnya tampaknya tidak membuat “jera” para orang kaya tersebut ”mengadu” orang miskin lewat apa yang mereka sebut “membagikan zakat atau sedekah”.

Orang miskin memang semakin terjepit di bulan suci ini. Belum memasuki bulan puasa saja harga bahan pokok sudah mulai merambat naik. Bagi mereka yang kaya, tentu saja hal itu tidak menjadi masalah berarti. Bagi kaum miskin alias dhuafa, hal itu berarti perjuangan lebih keras dan lebih berat untuk sekedar hidup. Di sinilah “bersedekah” menemukan konteksnya. Bagi yang kaya, memberi sedekah atau zakat berarti menambah pahala dan kehormatan secara sosial; sementara bagi simiskin, memperoleh sedekah atau zakat adalah bagian dari perjuangan hidup dan mati.

Lantas kemana kepedulian terhadap orang miskin selama bulan puasa? Kepedulian terhadap orang miskin cukup diwujudkan lewat menahan lapar dan haus (pak ustadz selalu bilang, begitulah cara “memahami” penderitaan orang miskin), untuk kemudian “melampiaskannya” di kafe-kafe atau restoran dengan menu yang “wah”. Penggusuran rakyat kecil termasuk pedagang kakilima tetap berlangsung. Dan pemuka agama cenderung diam tidak bersuara, bahkan di bulan yang konon penuh berkah ini. Kesadaran akan ketidakadilan dibungkam oleh “ibadah” semu.

Hatiku retak tiba-tiba. Dan justru karena ini bulan puasa, lidahku tidak kuasa menahan gelombang kejujuranku; “Ini benar-benar sialan, Tuhan!”

Kategori: Refleksi · Uncategorized